5 Penyebab Anak Telat Bicara, Jangan Abaikan Tanda Awalnya

Keterlambatan bicara pada anak tidak selalu terlihat dari satu tanda yang mencolok. Orang tua perlu memperhatikan respons sejak usia 6 bulan, karena pada fase ini anak yang sulit melakukan kontak mata saat dipanggil sudah bisa menunjukkan gejala awal.

Memasuki usia 12 bulan, tanda itu biasanya makin jelas. Anak bisa tidak merespons panggilan, tidak bergumam seperti “Dadaa”, atau tidak memberi isyarat sederhana seperti menggelengkan kepala dan melambaikan tangan.

Berdasarkan penjelasan yang dikutip CNN Indonesia dari laman Almoosa Health dan berbagai sumber, ada lima penyebab anak telat bicara yang paling sering perlu diwaspadai. Sebagiannya berkaitan dengan kondisi fisik, sementara yang lain berhubungan dengan perkembangan saraf dan kemampuan berkomunikasi.

1. Masalah pada mulut

Gangguan pada mulut bisa menghambat anak untuk mengucapkan kata dengan jelas. Kondisi ini dapat terjadi pada langit-langit mulut, lidah, atau frenulum linguae yang terlalu pendek.

Jika gerakan lidah tidak leluasa, proses mengeluarkan bunyi dan membentuk kata ikut terganggu. Akibatnya, kemampuan bicara anak bisa terlambat dibandingkan perkembangan usianya.

2. Masalah pendengaran

Pendengaran dan kemampuan bicara saling berkaitan erat. Anak yang kesulitan mendengar akan lebih sulit menangkap kata-kata dan bunyi yang perlu ditiru untuk belajar berbicara.

Kondisi ini membuat anak sukar mengenali kosakata, nada, dan artikulasi dengan benar. Bila otak tidak menerima bunyi secara tepat, kemampuan mengulang kata juga ikut terhambat.

3. Autisme

Kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial dapat menjadi salah satu tanda yang berkaitan dengan autisme. Pada anak dengan sindrom autisme, kemampuan berbahasa ekspresif sering terlambat berkembang.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter agar evaluasi dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Semakin dini pemeriksaan dilakukan, semakin cepat pula hambatan komunikasi dapat dikenali.

4. Afasia

Afasia terjadi karena kerusakan pada sisi kiri otak yang berfungsi mengatur pemahaman bahasa dan ekspresi. Gangguan ini dapat membuat anak kesulitan berbicara, menulis, dan mendengarkan dengan baik.

Anak dengan afasia juga bisa kesulitan mengekspresikan kata-kata dan memahami ucapan orang lain. Karena itu, gejalanya sering tampak sebagai hambatan berbahasa yang lebih luas, bukan hanya telat bicara.

5. Apraksia bicara

Apraksia bicara muncul ketika otak kesulitan mengirimkan perintah yang tepat ke mulut untuk menghasilkan kata. Anak sebenarnya tahu apa yang ingin diucapkan, tetapi tubuhnya tidak bisa mengeksekusi ucapan dengan benar.

Kondisi ini bisa disebabkan faktor bawaan atau cedera otak serius, termasuk tumor. Jika tanda-tandanya muncul, bantuan tenaga profesional seperti dokter spesialis anak perlu segera dicari.

PenyebabGambaran UtamaDampak pada Bicara
Masalah pada mulutGangguan pada palatum, lidah, atau frenulum linguaeGerakan lidah terhambat
Masalah pendengaranAnak sulit menangkap bunyi dan kataKesulitan meniru kosakata dan artikulasi
AutismeHambatan komunikasi dan interaksi sosialPerkembangan bahasa ekspresif terlambat
AfasiaKerusakan pada sisi kiri otakKesulitan bicara, menulis, dan mendengar
Apraksia bicaraOtak sulit mengirim perintah ke mulutUcapan tidak keluar sesuai yang dimaksud

Lima penyebab ini menjadi pengingat bahwa telat bicara pada anak tidak boleh dianggap sepele. Jika orang tua melihat tanda-tanda awal, pemeriksaan ke dokter spesialis anak dapat membantu menemukan penyebabnya lebih cepat.

CNN Indonesia mencatat, gejala bisa mulai terlihat sejak bayi berusia 6 bulan dan semakin jelas pada usia 12 bulan. Respons dini dari orang tua penting agar hambatan perkembangan bahasa tidak dibiarkan terlalu lama.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait