Anak Bisa Menjadi Korban Saat Orangtua Bermasalah, Ini Dampak Psikologisnya

Anak tidak seharusnya memikul konsekuensi atas tindakan keliru yang dilakukan orangtuanya. Namun dalam sejumlah situasi, anak justru dapat menghadapi stigma, cap negatif, hingga perundungan dari lingkungan sekitar.

Tekanan tersebut bukan persoalan sepele karena dapat mengusik rasa aman anak di rumah maupun di luar rumah. Psikolog anak dan keluarga Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, menilai anak dalam kondisi seperti ini dapat menjadi korban dari masalah yang dibuat orang dewasa.

Perhatian terhadap isu ini muncul setelah kasus dugaan ancaman bom oleh seorang orang tua murid terhadap sebuah sekolah dasar di Jakarta Selatan. Anak dari terduga pelaku kemudian dilaporkan menjadi sasaran perundungan di lingkungannya.

Menurut Sani, rumah idealnya menjadi tempat pertama yang memberi perlindungan dan kenyamanan bagi anak untuk tumbuh. Ketika fungsi tersebut terganggu, anak kehilangan ruang penting untuk merasa diterima serta memperoleh dukungan emosional.

Rasa aman anak dapat terganggu

Anak membutuhkan lingkungan yang membuatnya leluasa menyampaikan perasaan, kekhawatiran, dan pengalaman yang dihadapi. Saat rumah atau lingkungan terdekat tidak terasa aman, anak bisa kesulitan mencari tempat untuk bercerita.

Kondisi itu berisiko membuat anak tidak mampu mengenali dan mengelola emosi dengan baik. Emosi negatif yang terus dipendam dapat menumpuk dan memengaruhi kondisi psikologis maupun perilakunya.

Sani menjelaskan bahwa akumulasi emosi negatif dapat memicu respons perilaku yang merugikan diri anak sendiri ataupun orang lain. Risiko tersebut muncul ketika anak tidak memiliki dukungan yang cukup untuk menyalurkan tekanan secara sehat.

“Anak jadinya tidak bisa meregulasi emosi dengan baik, anak menumpuk akumulasi emosi negatif secara terus-menerus sehingga akan terjadi satu ledakan perilaku lain yang bisa menyebabkan kerugian diri sendiri maupun orang lain,” ujar Sani.

Karena itu, kesalahan orangtua tidak dapat dijadikan alasan untuk menghakimi anak. Anak bukan pihak yang bertanggung jawab atas tindakan yang tidak dilakukannya.

Komunikasi terbuka menjadi perlindungan

Sani menekankan pentingnya pola asuh yang sehat untuk mencegah dampak psikologis yang lebih berat. Orangtua perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman mengungkapkan apa yang dirasakan.

Ruang komunikasi tersebut membantu anak menyalurkan emosi dengan cara yang positif. Anak juga dapat memperoleh dukungan ketika menghadapi tekanan dari luar rumah, termasuk sikap negatif dari lingkungan.

Dalam penjelasannya yang dikutip lifestyle.kompas.com, Sani menyebut keterbukaan antara orangtua dan anak dapat membentuk pola asuh yang lebih sehat. Pola ini dinilai dapat mendukung fungsi anak agar berkembang lebih baik, bukan membuatnya semakin tertekan.

“Anak bisa menyalurkan emosi secara positif, kemudian orangtua dan anak bisa terbuka dan bercerita atas apa yang dirasa,” kata Sani. Ia menilai kondisi tersebut dapat membantu anak agar tidak terpuruk atau gagal mengatur emosinya.

Sekolah dan lingkungan perlu ikut melindungi

Perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi tugas keluarga. Sekolah dan masyarakat sekitar juga berperan menciptakan ruang yang aman, terutama ketika anak menghadapi stigma atau perundungan.

Sekolah perlu memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita apabila sedang mengalami tekanan. Kehadiran ruang aman dapat membantu anak menyampaikan masalah yang tidak mampu diungkapkan di tempat lain.

Sani menegaskan bahwa anak yang orangtuanya terlibat persoalan tetap membutuhkan perlindungan, bukan penghakiman. “Anak tidak salah, anak korban dari sistem yang keliru,” ujarnya.

Keluarga dan masyarakat diharapkan tidak memberi cap negatif maupun perlakuan diskriminatif kepada anak atas perbuatan orangtuanya. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu anak menjaga kesehatan mental serta mengurangi risiko masalah emosional dan perilaku di kemudian hari.

Terkait