Sulit Meminta Apa yang Dibutuhkan Bisa Berakar dari Masa Kecil, Ini Dampaknya

Merasa canggung, bersalah, atau takut saat hendak meminta sesuatu tidak selalu berarti seseorang terlalu lemah atau tidak pandai bersosialisasi. Bagi sebagian orang, respons itu dapat berakar dari pengalaman tumbuh di keluarga yang tidak memberi ruang aman bagi perasaan, batasan, dan keinginan pribadi.

Pola tersebut kerap terbawa hingga dewasa, lalu memengaruhi hubungan dengan pasangan, sahabat, maupun rekan kerja. Akibatnya, seseorang dapat terus mengutamakan kebutuhan orang lain sambil kesulitan mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan dirinya sendiri.

Pesan yang terserap sejak kecil

Psikoterapis berlisensi Sharon Martin, DSW, LCSW, menjelaskan bahwa keluarga disfungsional dapat hadir dalam beragam bentuk. Ada keluarga yang abai secara emosional, sangat kritis, tidak dapat diprediksi, suka mengendalikan, atau terlalu mengekang.

Dalam situasi seperti itu, anak dapat menangkap pesan bahwa perasaan dan kebutuhannya tidak cukup penting untuk didengar. Demi bertahan, mereka kemudian belajar membaca suasana hati orang lain, menghindari konflik, serta menekan keinginan pribadi agar keadaan tetap damai.

Strategi tersebut mungkin membantu anak menghadapi lingkungan rumah yang sulit. Namun ketika terbawa ke masa dewasa, kebiasaan itu dapat membuat seseorang sulit membela diri, menetapkan batasan, atau membangun hubungan yang terasa setara.

Menurut Martin dalam tulisannya di Psychology Today yang dikutip lifestyle.kompas.com, seseorang mungkin terbiasa menebak suasana hati orang di sekitarnya dan mengesampingkan keinginan sendiri demi menjaga kedamaian. Pola ini juga dapat membuat kebutuhan pribadi terasa asing atau sulit dikenali.

Meminta terasa seperti risiko

Bagi orang dengan luka pengasuhan, mengutarakan kebutuhan dapat langsung memunculkan kecemasan, keraguan diri, bahkan rasa malu. Kebutuhan emosional, fisik, dan psikologis yang dahulu diabaikan atau diremehkan bisa membuat seseorang percaya bahwa memiliki keinginan adalah beban bagi orang lain.

Meminta sesuatu juga menuntut kerentanan karena ada kemungkinan menghadapi penolakan, kritik, atau kekecewaan. Pengalaman masa kecil dapat membentuk anggapan bawah sadar bahwa suara mereka tidak akan mengubah apa pun, sehingga diam terasa lebih aman.

Ketakutan ini sering diperkuat oleh kekhawatiran akan penilaian orang lain. Seseorang mungkin takut dianggap terlalu menuntut, merepotkan, atau menyusahkan ketika mulai menyampaikan apa yang diinginkan.

Padahal, memiliki kebutuhan bukanlah tanda egois. Martin menekankan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan emosional, fisik, dan relasional, dan kebutuhan tersebut tidak membuat seseorang menjadi pribadi yang sulit atau berlebihan.

Risiko hubungan yang tidak seimbang

Kebiasaan memendam keinginan dapat memengaruhi banyak bagian kehidupan. Dalam relasi asmara atau pertemanan, seseorang berisiko bertahan dalam hubungan yang terasa sepihak karena terus menahan diri dan menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.

Pola memberi tanpa menyuarakan batas juga dapat memicu kelelahan kronis. Saat kebutuhan sendiri tidak pernah disampaikan atau dipenuhi, stres dan kecemasan bisa menumpuk karena semua beban dipendam seorang diri.

Ada pula dampak emosional yang lebih sunyi, yakni perasaan bahwa tidak ada orang yang benar-benar mengenal atau memedulikan diri sendiri. Perasaan ini dapat muncul ketika orang lain tidak mendapat kesempatan untuk memahami kebutuhan yang selama ini disembunyikan.

Martin mengingatkan bahwa pola tersebut bukan kesalahan individu yang mengalaminya. Pola itu merupakan cerminan dari pesan keliru yang terserap pada masa lalu tentang nilai diri dan hak untuk memiliki kebutuhan.

Memulai dari permintaan kecil

Perubahan dapat dimulai dengan memberi perhatian pada keinginan sehari-hari. Pertanyaan sederhana seperti hal apa yang dapat meringankan hari ini bisa membantu seseorang mengenali kebutuhan yang selama ini terabaikan.

Menulis juga dapat menjadi cara untuk memahami perasaan dan kebutuhan dengan lebih jelas. Langkah ini membantu membedakan antara keinginan pribadi, rasa takut terhadap penolakan, dan kebiasaan mengutamakan orang lain.

Latihan dapat dilakukan dalam situasi yang risikonya rendah, misalnya meminta bantuan untuk tugas ringan atau mengajukan perpanjangan waktu kerja. Permintaan sebaiknya disampaikan dengan jelas dan sopan, sambil menerima bahwa respons orang lain tidak selalu sesuai harapan.

Penolakan tidak menghapus hak seseorang untuk meminta apa yang dibutuhkan. Harga diri tidak ditentukan oleh apakah orang lain bersedia memenuhi kebutuhan tersebut atau tidak.

Bila kesulitan ini terasa berat, dukungan dari terapis atau kelompok diskusi dapat menyediakan ruang aman untuk berlatih bersuara. Prosesnya mungkin berlangsung perlahan, tetapi mengenali kebutuhan sendiri merupakan langkah penting untuk membangun relasi yang lebih sehat dan seimbang.

Terkait