Kurangnya perhatian orang tua berkaitan dengan tingkat ciri psikopatik yang lebih tinggi pada anak, menurut sebuah penelitian yang melibatkan keluarga di Yunani-Siprus dan Belanda. Namun, temuan ini tidak menyederhanakan masalah menjadi kesalahan orang tua semata karena perilaku anak juga dapat memengaruhi cara orang tua mengasuh.
Hubungan dua arah tersebut penting dipahami agar keluarga tidak terburu-buru memberi label pada anak atau menyalahkan diri sendiri. Penelitian justru menyoroti perlunya melihat interaksi antara pola asuh anak, perilaku, dan kebutuhan dukungan psikologis secara lebih menyeluruh.
Studi yang dimuat dalam jurnal Child and Adolescent Psychopathology menelaah hubungan antara ciri psikopatik pada anak dan beragam praktik pengasuhan. Peneliti juga memasukkan faktor masalah perilaku, seperti agresivitas, pelanggaran aturan, perilaku tidak terkendali, serta kesulitan mengikuti norma sosial.
Ciri psikopatik merujuk pada kumpulan karakteristik kepribadian negatif, termasuk kurang empati, sikap tidak peduli, kecenderungan manipulatif, dan impulsivitas. Karakteristik ini sering dikaitkan dengan orang dewasa, tetapi penelitian menunjukkan ciri serupa juga dapat muncul pada anak-anak dan remaja.
Tiga Dimensi yang Diteliti
Penelitian tersebut membagi ciri psikopatik anak ke dalam tiga dimensi utama. Pembagian ini membantu peneliti melihat bahwa persoalan perilaku tidak hanya berkaitan dengan satu bentuk sikap atau reaksi anak.
| Dimensi | Gambaran Umum |
|---|---|
| Tidak berperasaan-tidak emosional | Kurangnya empati dan kepedulian emosional |
| Sombong-penipu | Kecenderungan bersikap sombong atau manipulatif |
| Impulsif-kebutuhan akan stimulasi | Perilaku impulsif dan kebutuhan akan rangsangan |
Menurut laporan www.cnbcindonesia.com yang mengutip PsyPost, penelitian berjudul Psychopathic Traits and Parental Practices in Greek-Cypriot Community and Dutch Clinical Referred Samples menggunakan dua kelompok orang tua. Kelompok pertama adalah sampel komunitas Yunani-Siprus, sedangkan kelompok kedua merupakan sampel klinis di Belanda.
| Kelompok Partisipan | Jumlah Orang Tua |
|---|---|
| Komunitas Yunani-Siprus | 768 |
| Sampel klinis Belanda | 217 |
Perhatian Orang Tua dan Kontrol Berlebihan
Hasil studi menemukan hubungan yang signifikan antara ciri psikopatik dan praktik pengasuhan. Anak dengan tingkat ciri psikopatik lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat perhatian orang tua yang lebih rendah.
Peneliti juga menemukan interaksi antara ciri psikopatik dan masalah perilaku anak dalam kaitannya dengan kontrol orang tua. Anak yang memiliki tingkat ciri psikopatik serta masalah perilaku tinggi cenderung menerima kontrol yang lebih besar dari orang tua.
Kontrol tersebut perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas, bukan otomatis sebagai penyebab tunggal masalah yang dialami anak. Anak dengan perilaku yang sulit diatur, agresif, atau kerap melanggar aturan dapat membuat orang tua menghadapi tekanan pengasuhan yang lebih besar.
Anak yang tampak tidak berperasaan atau kurang empati juga bisa dipandang sangat menantang oleh orang tua. Situasi ini berpotensi memicu kelelahan orang tua dan membuat praktik pengasuhan menjadi kurang positif.
Bukan Hubungan Sebab-Akibat Satu Arah
Tim peneliti menegaskan bahwa pola pengasuhan bukan satu-satunya faktor yang bertanggung jawab terhadap perilaku anak. Sebaliknya, perilaku anak dapat membentuk respons orang tua, termasuk tingkat perhatian maupun kontrol yang diterapkan di rumah.
Karena itu, istilah “anak psikopat” tidak tepat digunakan secara sembarangan untuk menjelaskan perilaku sulit pada masa tumbuh kembang. Studi ini membahas ciri-ciri dan pola hubungan pengasuhan, bukan memberi dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap anak dengan perilaku tertentu akan memiliki kondisi yang sama di kemudian hari.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan bagi anak perlu mempertimbangkan kondisi perilaku sekaligus pengalaman pengasuhan yang terjadi di sekitarnya. Pemahaman atas hubungan yang kompleks ini dapat membantu pengembangan intervensi yang lebih efektif agar anak dengan persoalan psikopatologi dapat menjalani kehidupan yang sehat.
Source: www.cnbcindonesia.com






