Mengatur jumlah tabungan yang ideal merupakan hal penting bagi generasi milenial yang menghadapi berbagai tantangan finansial, mulai dari gaya hidup konsumtif hingga biaya hidup yang terus meningkat. Jadi, berapa sebenarnya jumlah tabungan yang sebaiknya dimiliki agar bisa menjaga kestabilan keuangan dan mempersiapkan masa depan? Tidak ada angka mutlak, tetapi ada beberapa panduan yang bisa dijadikan acuan.
Secara umum, pakar keuangan merekomendasikan agar milenial menyisihkan sekitar 20 persen dari penghasilan bulanan untuk tabungan atau investasi. Misalnya, bagi yang memiliki gaji antara Rp8 juta hingga Rp10 juta, alokasikan minimal Rp1,6 juta hingga Rp2 juta per bulan. Angka ini didasarkan pada metode pengelolaan keuangan populer yang dikenal dengan prinsip 50/30/20.
Prinsip 50/30/20 untuk Pengelolaan Keuangan Milenial
Metode 50/30/20 membagi pendapatan bulanan ke dalam tiga kategori utama, yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk gaya hidup, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi. Prinsip ini membantu milenial tetap bisa menikmati gaya hidup tanpa mengorbankan dana yang diperlukan untuk masa depan. Dengan menggunakan prinsip ini, seseorang yang berpenghasilan Rp8 juta harus menabung sekitar Rp1,6 juta setiap bulan dan bagi penghasilan Rp10 juta target tabungannya sekitar Rp2 juta.
Selain itu, pada kenyataannya banyak orang cenderung mengalokasikan lebih banyak untuk gaya hidup dan mengabaikan tabungan. Oleh sebab itu, disiplin dalam menerapkan aturan ini menjadi kunci utama agar target tabungan dapat tercapai.
Dana Darurat Setara 3–6 Kali Pengeluaran Bulanan
Selain alokasi tabungan bulanan, penting juga untuk menyiapkan dana darurat yang idealnya setara 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, jika pengeluaran rutin per bulan adalah Rp5 juta, maka dana darurat yang perlu disimpan berkisar antara Rp15 juta hingga Rp30 juta. Dana ini berfungsi sebagai penyangga keuangan ketika menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau keperluan mendesak lainnya.
Ketiadaan dana darurat berisiko membuat seseorang terjerumus dalam utang yang bisa memperburuk kondisi finansial jangka panjang.
Tabungan Konsisten Selama 10 Tahun untuk Keamanan Finansial
Mempersiapkan masa depan juga bisa dilakukan dengan konsisten menabung sebanyak 20 persen penghasilan selama 10 tahun. Misalnya, seseorang dengan penghasilan Rp10 juta yang rutin menabung Rp2 juta per bulan dapat mengumpulkan sekitar Rp240 juta dalam satu dekade, belum termasuk hasil dari bunga tabungan atau investasi. Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan penting seperti uang muka rumah, modal usaha, atau biaya pendidikan anak.
Mulai menabung sejak dini menjadi strategi yang efektif agar nilai tabungan bisa lebih optimal dari waktu ke waktu.
Menghindari Kesalahan Menabung dari Sisa Gaji
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan milenial adalah menabung dari sisa gaji setelah memenuhi kebutuhan dan gaya hidup. Cara ini rentan gagal karena keinginan cenderung menghabiskan pendapatan terlebih dahulu. Sebaiknya terapkan prinsip "pay yourself first" atau memprioritaskan tabungan segera setelah menerima gaji.
Misalnya, jika mendapat gaji Rp8 juta, langsung alokasikan Rp1,6 juta untuk tabungan dan baru gunakan sisa gaji untuk kebutuhan lain.
Seimbangkan Tabungan dan Investasi
Menabung di bank saja tidak cukup mengingat inflasi yang terus menggerus nilai uang. Oleh sebab itu, sebagian tabungan sebaiknya diinvestasikan pada instrumen yang sesuai dengan profil risiko, seperti reksa dana atau obligasi. Dengan begitu, jumlah uang yang disimpan dapat tumbuh dan mendukung tujuan keuangan jangka panjang.
Dalam merencanakan tabungan yang ideal, milenial perlu memahami bahwa tidak ada satu angka pasti yang berlaku untuk semua. Namun menggunakan acuan seperti prinsip 50/30/20 dan menyiapkan dana darurat bisa menjadi langkah awal yang realistis dan efektif. Konsistensi dan disiplin dalam pengelolaan keuangan jauh lebih penting dibandingkan jumlah nominal yang ditabung setiap bulan. Dengan begitu, kesehatan finansial dapat terjaga dan risiko menghadapi krisis keuangan dapat diminimalisasi.
