Perkedel dan kroket seringkali dianggap sama karena bentuk dan bahan dasarnya yang mirip, yaitu kentang dan daging. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, keduanya memiliki sejarah, proses pembuatan, hingga cara penyajian yang berbeda secara signifikan. Mengetahui perbedaan tersebut penting agar kita dapat lebih menghargai keunikan masing-masing hidangan yang kerap hadir di meja makan sehari-hari.
Perkedel dan kroket bukanlah makanan asli Indonesia. Kedua camilan ini masuk ke Indonesia melalui pengaruh penjajahan Eropa, namun berasal dari negara yang berbeda dan memiliki latar belakang unik. Perbedaan ini membuat cita rasa, tekstur, dan penyajiannya pun bervariasi sesuai penyesuaian budaya lokal.
Sejarah Perkedel: Adaptasi dari Belanda
Perkedel berasal dari makanan Belanda bernama "frikadeller" atau "frikadel" yang berarti bola daging cincang yang dipadatkan kemudian digoreng. Masuk ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda, perkedel kemudian mengalami adaptasi dengan menyesuaikan bahan dan cita rasa agar cocok di lidah masyarakat Nusantara. Biasanya, perkedel Indonesia menggunakan kentang yang dihaluskan sebagai bahan utama, dicampur dengan sedikit daging cincang atau kornet, lalu dibentuk bulat pipih dan digoreng setelah dibalur telur.
Perkedel kini menjadi lauk pauk sehari-hari yang sangat populer dan mudah ditemukan dalam berbagai hidangan Nusantara, mulai dari nasi uduk, soto, hingga sup hangat.
Sejarah Kroket: Dari Prancis ke Indonesia Lewat Belanda
Kroket punya sejarah yang berbeda. Makanan ini berasal dari Prancis dan kata "kroket" sendiri berasal dari bahasa Prancis “croquer” yang berarti renyah. Kroket mulai dikenal pada akhir abad ke-17, tepatnya tahun 1691, saat seorang juru masak bernama Antonin Carême memperkenalkan kroket dalam jamuan kerajaan Raja Louis XIV.
Seiring waktu, kroket menjadi camilan populer di Eropa, termasuk Belanda yang kemudian membawa resep kroket ke Indonesia saat masa kolonial. Kroket khas Belanda berbeda karena biasanya diisi ragout yang dicampur kentang tumbuk halus, sayuran, dan daging cincang. Bentuk kroket bisa bulat, lonjong, atau oval. Setelah dibentuk, kroket dilapisi dengan tepung roti (panir) dan telur sebelum digoreng, sehingga menghasilkan tekstur luar yang renyah dan isi dalam yang creamy.
Perbedaan Proses dan Bahan dalam Pembuatan
Perbedaan utama antara perkedel dan kroket terletak pada bahan isi dan teknik pelapisnya. Perkedel menggunakan kentang halus dicampur daging cincang sedikit saja, kemudian dibentuk bulat pipih tanpa lapisan tepung roti. Sedangkan kroket memiliki isian ragout daging atau sayuran yang dicampur ke dalam kentang halus, dan sebelum digoreng, kroket dilapisi telur dan tepung roti untuk memberikan tekstur yang renyah dan creamy.
Tekstur perkedel lebih sederhana dengan lapisan luar yang renyah dan dalam yang lembut, sedangkan kroket mengandalkan lapisan tepung roti sebagai ciri khas tekstur renyah di luar serta isian creamy yang kaya rasa.
Perbedaan Tekstur dan Rasa
Meski keduanya berbahan kentang dan daging, sensasi rasa perkedel dan kroket berbeda. Perkedel menawarkan rasa gurih dengan aroma rempah bawang dan lada yang menonjol. Ini menjadikan perkedel cocok sebagai pelengkap lauk pauk berbasis nasi atau hidangan berkuah.
Sementara kroket memiliki rasa yang lebih kompleks dengan tekstur creamy dari ragout isian yang bervariasi, mulai dari daging sapi, ayam suwir, hingga keju dan sayuran. Kroket biasanya dinikmati sebagai camilan dengan pelengkap saus sambal, tomat, atau cabai rawit.
Cara Penyajian yang Berbeda
Perkedel umumnya disajikan sebagai lauk pendamping dalam hidangan utama, seperti nasi kuning, nasi uduk, soto, dan sup. Sementara kroket lebih sering muncul sebagai camilan ringan yang pas dinikmati bersama secangkir teh atau kopi.
Variasi Perkedel dan Kroket di Indonesia
Indonesia sendiri telah mengembangkan berbagai variasi perkedel dan kroket sesuai selera lokal. Perkedel hadir dalam varian jagung, tahu, tempe, bahkan seafood. Kroket pun tidak kalah beragam dengan isi ragout daging sapi, ayam, keju mozzarella, hingga mi goreng. Beberapa daerah juga memiliki ciri khas tersendiri, seperti kroket Bandung dengan ragout rempah, kroket Semarang berukuran besar, dan kroket Surabaya yang sering menggunakan jagung manis sebagai isiannya.
Perkedel dan kroket yang awalnya merupakan makanan impor kini telah melebur menjadi bagian unik dari ragam kuliner Indonesia dengan inovasi tak terbatas. Hal ini membuktikan bahwa meskipun berasal dari sejarah berbeda, keduanya mampu beradaptasi dan disukai banyak kalangan sebagai makanan favorit yang tidak lekang oleh waktu.
