Anak yang marah atau tantrum saat gadget atau ponselnya diambil bukan sekadar perilaku biasa, melainkan bisa menjadi indikator awal kecanduan gadget. Fenomena ini semakin lazim terjadi mengingat anak-anak generasi Alpha tumbuh dalam era digital yang serba cepat dan terbuka. Psikolog Poppy Amalya, M.Psi., menegaskan bahwa orangtua perlu memahami bahwa banyak anak kini tidak hanya sebagai pengguna biasa, tetapi juga sebagai pencipta dan konsumen aktif konten digital.
Menurut Poppy, ketika anak menunjukkan kemarahan berlebihan saat perangkat digital diambil, ini menandakan ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Anak yang terlalu lama bermain gadget atau menatap layar rentan mengalami gangguan perkembangan, seperti keterlambatan bicara dan penurunan kemampuan sosial emosional. Oleh karena itu, orangtua tidak bisa hanya bertindak sebagai pengontrol, melainkan harus berperan sebagai pendamping yang mampu membangun koneksi emosional yang kuat dengan anak.
Pentingnya Peran Orangtua Dalam Mengelola Penggunaan Gadget
Poppy menyarankan agar orangtua beralih dari pola asuh yang reaktif menjadi pola asuh yang aktif dan responsif. Artinya, orangtua harus mengerti dan menanggapi kebutuhan emosional anak, bukan hanya melarang penggunaan gadget secara sewenang-wenang. Hal ini perlu dilakukan agar anak merasa didengar dan dipahami, bukan hanya dikontrol atau dipaksa menuruti aturan tanpa penjelasan.
Koneksi emosional yang kuat antara orangtua dan anak disebut sebagai fondasi utama untuk membantu anak menghadapi pengaruh teknologi yang masif. Terlebih, di tengah kemudahan akses informasi dan hiburan digital, anak-anak sangat mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia. Jika tidak ada pendampingan, anak bisa menjadi sulit mengendalikan diri, terutama dalam mengatur waktu bermain gadget.
Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan pada Anak
Penelitian terbaru menunjukkan adanya korelasi antara waktu screen time berlebih dan hambatan perkembangan anak. Anak usia dua tahun yang terpapar lebih dari dua jam gadget setiap hari memiliki risiko 2,7 kali lebih besar mengalami keterlambatan bicara. Selain itu, paparan gadget tanpa kontrol dapat menghambat perkembangan kognitif, motorik, serta aspek fisik dan sosial emosional anak.
Tidak hanya itu, penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga dapat membuat anak menjadi kurang percaya diri karena terlalu bergantung pada validasi di dunia maya. Hal ini mengakibatkan anak mencari pengakuan lewat media sosial atau permainan digital, bukan dari interaksi nyata dengan keluarga dan teman sebayanya.
Strategi Mengatasi Anak yang Marah Saat HP Diambil
Berikut beberapa saran psikolog untuk orangtua dalam menghadapi anak yang marah ketika gadgetnya diambil:
-
Tetap Tenang dan Sabar
Orangtua harus menjaga emosi dan tidak ikut terpancing amarah anak. Reaksi yang tenang memberi contoh bagaimana mengelola perasaan. -
Berikan Penjelasan yang Jelas
Jelaskan alasan pengambilan gadget dengan bahasa yang mudah dimengerti anak agar mereka memahami batasan tersebut bukan bentuk hukuman. -
Alihkan Perhatian dengan Aktivitas Positif
Ajak anak melakukan kegiatan lain yang menyenangkan sekaligus mendidik, seperti menggambar, membaca buku, atau bermain di luar rumah. -
Buat Jadwal Penggunaan Gadget
Tetapkan waktu khusus untuk anak menggunakan gadget agar tidak dilakukan secara terus-menerus. - Bangun Koneksi Emosional
Luangkan waktu berkualitas bersama anak untuk memperkuat ikatan emosional dan memberikan rasa aman sehingga anak tidak mencari penghiburan hanya pada layar gadget.
Perayaan Hari Anak Nasional dan Kesadaran Orangtua
PPLIPI menggelar Festival Anak Indonesia untuk memperingati Hari Anak Nasional sekaligus memberikan ruang bagi anak mengekspresikan bakatnya. Dalam festival ini juga diselenggarakan talkshow parenting berjudul “Mendidik dengan Hati di Era Digital” untuk meningkatkan pengetahuan orangtua terkait pengasuhan anak di zaman teknologi.
Acara ini menekankan pentingnya peran aktif orangtua dalam membentuk pola asuh yang seimbang. Dengan pola asuh responsif dan pengelolaan penggunaan gadget yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, serta mampu mengendalikan emosi dan penggunaan teknologi secara sehat.
Melalui pemahaman yang baik dan penerapan strategi yang tepat, kemarahan anak saat gadget diambil dapat diminimalisir dan menjadi kesempatan memperkuat hubungan emosional antara orangtua dan anak di tengah tantangan era digital.





