Sudah Sikat Gigi Dua Kali Sehari, Tapi Mulut Masih Bermasalah? Ini Penyebab Utamanya

Menyikat gigi dua kali sehari sudah jadi kebiasaan yang dianjurkan untuk menjaga kebersihan mulut dan menghindari berbagai masalah gigi. Namun, data Riskesdas 2023 menunjukkan fakta berbeda: meskipun 72,5 persen masyarakat Indonesia telah rutin menyikat gigi dua kali sehari, 56,9 persen di antaranya masih menghadapi masalah kesehatan gigi dan mulut. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa masalah mulut tetap muncul walaupun sudah menjalani rutinitas sikat gigi yang benar?

Salah satu penyebab utama adalah cara menyikat gigi yang kurang tepat. Menyikat gigi secara asal atau tergesa-gesa tidak akan membersihkan plak secara maksimal, sehingga bakteri yang menyebabkan kerusakan gigi dan gusi tetap menumpuk. Selain itu, kebiasaan lain seperti mengabaikan penggunaan benang gigi untuk membersihkan sela gigi turut berkontribusi pada permasalahan ini. Faktor gaya hidup dan pola makan juga memegang peranan penting, terutama konsumsi makanan tinggi gula dan lengket yang mudah menempel pada gigi.

Pentingnya Teknik Menyikat Gigi yang Benar

Banyak orang beranggapan bahwa menyikat gigi dua kali sehari sudah cukup, padahal teknik yang digunakan juga menentukan efektivitas pembersihan. Drg. Zahrah Almira, dokter gigi dan influencer kesehatan mulut, menekankan perlunya edukasi berkelanjutan untuk memperbaiki kebiasaan ini. Menyikat gigi secara perlahan dengan sudut sekitar 45 derajat terhadap gusi dapat membantu membersihkan plak di sepanjang garis gusi yang kerap terlupakan. Durasi sikat gigi juga sebaiknya minimal dua menit setiap kali agar seluruh permukaan gigi terjangkau.

Selain itu, penggunaan benang gigi menjadi langkah penting untuk membersihkan area yang tidak bisa dijangkau sikat gigi, yaitu sela-sela gigi. Plak dan sisa makanan yang terperangkap di sela-sela inilah yang sering menyebabkan peradangan gusi dan kerusakan gigi bila dibiarkan.

Pengaruh Pola Makan dan Gaya Hidup

Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula adalah faktor lain yang memperburuk kondisi kesehatan mulut. Makanan lengket seperti karamel atau permen dapat menempel lama di gigi sehingga meningkatkan risiko pembentukan plak dan karies gigi. Tidak hanya itu, kebiasaan merokok juga berdampak negatif, memicu infeksi dan menurunkan kemampuan mulut dalam melawan bakteri berbahaya.

Kondisi kesehatan tertentu, seperti mulut kering atau penyakit sistemik juga dapat memengaruhi kesehatan mulut. Mulut kering membuat liur tidak berfungsi optimal sebagai pelindung alami gigi dari bakteri, sementara penyakit sistemik seperti diabetes dapat meningkatkan risiko infeksi di mulut.

Langkah-Langkah Perbaikan dan Pencegahan

Untuk meminimalkan risiko masalah mulut meskipun sudah menyikat gigi dua kali sehari, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Perbaiki teknik menyikat gigi sesuai arahan tenaga kesehatan.
  2. Gunakan benang gigi setiap hari untuk membersihkan sela-sela gigi.
  3. Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis serta lengket.
  4. Hindari merokok dan gaya hidup tidak sehat lainnya.
  5. Rutin periksa kesehatan gigi ke dokter gigi, terutama jika mengalami keluhan.
  6. Perhatikan kondisi kesehatan umum yang mungkin mempengaruhi mulut, seperti mulut kering atau penyakit tertentu.

Gerakan Edukasi dan Aksi Nyata dari Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat, peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional (HKGN) pada 12 September diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan sosial. Salah satu contohnya adalah kegiatan Aksi Formula Generasi Kuat Indonesia yang mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk ikut serta menjaga kebersihan gigi. Kegiatan ini yang diadakan di Universitas Jayabaya diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari anak-anak, orang dewasa, hingga teman-teman disabilitas.

Kegiatan meliputi sikat gigi bersama, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan oleh tenaga profesional, serta pembagian sikat gigi dan pasta gigi secara gratis. Atlet sepakbola muda, Marselino Ferdinan, juga dilibatkan sebagai brand ambassador untuk menginspirasi anak-anak dan masyarakat agar tetap peduli dengan kesehatan gigi dan mulut.

Upaya berkelanjutan seperti ini menjadi kunci untuk mengatasi masalah kesehatan mulut di masyarakat. Dengan dukungan edukasi dan akses layanan kesehatan yang lebih luas, diharapkan angka masalah gigi dan mulut dapat ditekan, sehingga kesehatan masyarakat secara keseluruhan meningkat.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan hanya soal menyikat gigi rutin, tapi juga memperhatikan aspek teknik, pola hidup, dan konsistensi dalam melakukan pemeriksaan ke dokter gigi. Kombinasi langkah-langkah ini diperlukan untuk mencegah berbagai gangguan yang bisa mengganggu kualitas hidup dan kepercayaan diri.

Berita Terkait

Back to top button