Hampir setiap orangtua pernah menggunakan kebohongan kecil dengan alasan kebaikan untuk anak-anaknya. Namun, niat baik ini tidak selalu membawa dampak positif. Psikolog Juli Fraga yang memiliki pengalaman dua dekade dalam bidang parenting mengingatkan bahwa kebohongan orangtua berpotensi menghambat kesuksesan anak dalam jangka panjang.
Kebohongan yang sering dimaksudkan sebagai perlindungan atau motivasi bisa berakibat buruk pada kesehatan mental, hubungan sosial, maupun perkembangan karier anak. Berikut ini beberapa contoh kalimat bohong yang umum diucapkan orangtua dan dampak negatifnya menurut Fraga, seperti dilansir dari CNBC Make It.
1. “Jika Kamu Berusaha, Kamu Bisa Mencapai Apa pun”
Kalimat ini bertujuan untuk memotivasi anak agar bekerja keras. Namun, pernyataan ini tanpa penjelasan realistis bisa membuat anak menyalahkan diri sendiri ketika gagal mencapai hasil. Fraga menyarankan orangtua untuk mengajarkan bahwa usaha itu penting, tetapi hasil tidak selalu menjamin kesuksesan. Mengajarkan arti keberanian mencoba dan mengelola ekspektasi lebih bermanfaat dalam membangun mental anak.
2. “Kamu Tidak Boleh Egois”
Seringkali egois dipandang negatif, padahal ada “egois sehat” yang penting bagi kesejahteraan anak. Misalnya, menolak bermain saat lelah adalah bentuk merawat diri sekaligus membangun harga diri. Menghapus pemahaman bahwa segala bentuk egoisme itu buruk justru dapat menghambat perkembangan emosional dan kepercayaan diri anak.
3. “Kamu Harus Melihat Sisi Baiknya”
Dorongan untuk selalu bersikap positif ternyata tidak selalu tepat. Memaksa anak untuk menyembunyikan kesedihan atau rasa kecewa justru bisa melemahkan dan membuat mereka merasa tidak divalidasi. Fraga menekankan pentingnya orangtua mengakui kesulitan anak dan membiarkan mereka mengekspresikan emosi dengan jujur. Hal ini akan membantu membentuk ketahanan emosional yang kuat.
4. “Kamu Bisa Melakukan Semuanya Sendiri”
Harapan agar anak mandiri kerap disampaikan lewat kalimat ini, namun berisiko membuat anak merasa meminta bantuan itu salah atau tanda kelemahan. Anak yang diajarkan untuk mandiri tanpa belajar meminta bantuan akan kesulitan memecahkan masalah dan membangun hubungan saling mendukung di kemudian hari. Doronglah anak untuk berani meminta dan menerima bantuan sesuai kebutuhan.
5. “Jangan Menangis”
Masyarakat sering menilai ekspresi menangis sebagai tanda kelemahan. Anak yang diajarkan demikian bisa tumbuh menjadi pribadi yang defensif, perfeksionis, dan kesulitan mengenali emosi sendiri. Fraga menegaskan bahwa menangis adalah ekspresi normal dan sehat, sekaligus membantu pengambilan keputusan yang lebih baik. Mengizinkan anak untuk menangis memperkuat kesehatan mental dan emosional mereka.
Ternyata, kebohongan kecil yang diucapkan dengan niat melindungi seringkali justru membahayakan perkembangan anak. Orangtua penting untuk mengganti kalimat kalimat tersebut dengan komunikasi yang jujur dan mendukung secara emosional. Pendekatan ini tidak hanya membantu anak meraih kesuksesan, tetapi juga mengembangkan kesejahteraan dan ketahanan yang lebih baik di masa depan.
Sebagai tambahan, orangtua dapat mempelajari teknik parenting yang fokus pada pengembangan kemandirian, empati, dan validasi emosi anak agar mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan hidup. Pendampingan yang tepat sejak dini memberikan fondasi kuat dalam perjalanan hidup mereka.
