Kenali Hurry Sickness: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ibu & Pekerja Aktif!

Hurry sickness adalah kondisi di mana seseorang merasa selalu terburu-buru menjalani berbagai aktivitas, meskipun sebenarnya tidak ada tekanan eksternal yang mendesak. Kondisi ini membuat pikiran dan tubuh terus berada pada mode “overdrive” yang memicu stres kronis hingga berpengaruh buruk pada kesehatan fisik maupun mental. Terutama bagi ibu dan pekerja yang menjalani peran ganda, hurry sickness bisa menjadi ancaman kesehatan yang serius jika tidak dikenali dan dikelola dengan baik.

Dokter kegawatdaruratan sekaligus CEO Orli Health, Dr. Mark Cox, menjelaskan bahwa kebiasaan terburu-buru memicu sistem respons stres tubuh untuk selalu aktif, sehingga kadar hormon kortisol tetap tinggi dalam jangka panjang. Kortisol yang terus meningkat berhubungan dengan risiko penyakit jantung, gangguan tidur, masalah pencernaan, hingga penurunan sistem imun. Kondisi ini juga berkaitan erat dengan kepribadian tipe-A, yang cenderung kompetitif dan berorientasi pada tujuan, serta ketidakmampuan dalam mengelola tekanan hidup dengan baik.

Dampak Hurry Sickness pada Ibu dan Pekerja
Bagi perempuan, khususnya ibu yang juga merupakan pekerja, tekanan untuk selalu produktif dan menyelesaikan segala tanggung jawab membuat risiko hurry sickness semakin tinggi. Psikoterapis Mandy Saligari menyebutkan bahwa ibu pekerja kerap menghadapi benturan peran, di mana mereka harus tampil maksimal di tempat kerja sekaligus mengurus keluarga tanpa dukungan optimal dari pasangan. Kondisi ini memicu kelelahan fisik dan mental yang berkelanjutan.

Konselor CBT dan Psikoterapis Lorraine Collins menambahkan bahwa multitasking yang sering dilakukan perempuan justru memperparah masalah ini. Kesibukan sering menjadi mekanisme menghindar dari kecemasan atau masalah emosional yang sebenarnya perlu perhatian lebih dalam. Hurry sickness pun menjadi pola coping yang justru merugikan kesehatan jangka panjang.

Tanda-tanda dan Kebiasaan yang Perlu Diwaspadai
Berikut lima kebiasaan utama yang sering ditemukan pada orang dengan hurry sickness, terutama ibu dan pekerja:

  1. Mengambil tanggung jawab berlebihan di pekerjaan dan rumah tanpa kemampuan untuk beristirahat.
  2. Tidak mampu memprioritaskan tugas secara realistis sehingga semua harus diselesaikan tanpa mempertimbangkan manfaat dan waktu.
  3. Sulit berkata “tidak” kepada permintaan atau pekerjaan baru sehingga menambah beban mental dan fisik.
  4. Melakukan multitasking secara terus-menerus, yang berdampak pada kecemasan dan kelelahan mental.
  5. Mengabaikan waktu untuk istirahat atau santai, sehingga tubuh dan pikiran tidak pernah pulih.

Menurut Mandy, penting bagi seseorang untuk mengevaluasi ulang prioritas dan menolak tugas-tugas yang menumpuk tanpa perlu, terutama jika beban tersebut tidak didorong oleh tujuan pribadi yang jelas.

Strategi Melambat dan Menjaga Kesehatan
Dr. Cox menekankan bahwa melambat bukan berarti berhenti, melainkan memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih dan menyeimbangkan diri. Mengelola hurry sickness dapat dimulai dengan mengatur tempo hidup yang lebih realistis dan sadar. Risiko penyakit fisik seperti jantung, gangguan tidur, hingga gangguan mental seperti depresi dan burnout dapat ditekan dengan pendekatan ini.

Salah satu teknik sederhana yang bisa diterapkan adalah latihan pernapasan “Box Breathing” yang dapat membantu mengalihkan tubuh dari mode stres ke keadaan lebih tenang dan terkendali. Caranya adalah:

  1. Tarik napas pelan selama empat hitungan.
  2. Tahan napas selama empat hitungan.
  3. Hembuskan perlahan selama empat hitungan.
  4. Tahan napas lagi selama empat hitungan, lalu ulangi.

Mengelola Hurry Sickness melalui Kebiasaan Sehat
Untuk menekan hurry sickness, para ibu dan pekerja disarankan untuk:

  1. Membuat daftar prioritas dan menghilangkan tugas yang tidak perlu.
  2. Delegasikan pekerjaan tak mendesak atau yang dapat dilakukan orang lain.
  3. Latih diri mengatakan “tidak” secara tegas dengan alasan yang jelas.
  4. Fokus pada satu tugas dalam satu waktu (single-tasking).
  5. Menyediakan waktu khusus untuk relaksasi dan istirahat tanpa merasa bersalah.

Pemahaman dan pengelolaan hurry sickness ini penting agar ibu dan pekerja tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mental. Kesadaran akan kebutuhan biologis tubuh untuk beristirahat merupakan langkah awal mencegah stres berkepanjangan dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Src: https://lifestyle.viva.co.id/kesehatan/6529-mengenal-hurry-sickness-intai-kesehatan-fisik-dan-mental-ibu-dan-pekerja?page=all

Berita Terkait

Back to top button