
Kerokan memang sudah lama dikenal sebagai metode tradisional untuk mengatasi masuk angin, pegal, dan rasa lelah. Cara yang mudah, murah, serta turun-temurun ini sering dianggap aman dan tanpa risiko serius. Namun, di balik sensasi lega setelah kerokan, terdapat sejumlah bahaya yang sering kali tidak disadari banyak orang dan dapat berdampak negatif bagi kesehatan kulit hingga kondisi tubuh secara menyeluruh.
Meskipun biasanya terlihat sebagai bercak merah atau memar pada kulit, kerokan yang dilakukan dengan tekanan berlebih atau teknik yang kurang tepat berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui risiko yang mungkin timbul agar bisa lebih bijak dalam menjalankan tradisi ini dan meminimalkan dampak buruknya.
1. Memar dan Bengkak
Kerokan menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil di bawah kulit sehingga muncullah memar atau bercak ungu. Menurut Medical News Today, memar ini umumnya ringan dan dapat hilang beberapa hari dengan perawatan yang benar. Namun, tekanan keras atau kerokan berulang di area yang sama bisa menyebabkan pembengkakan dan nyeri, seperti yang juga ditekankan WebMD. Kebersihan alat kerokan dan teknik yang tepat penting untuk mengurangi risiko ini.
2. Perdarahan Internal dan Komplikasi Pembuluh Darah
Tekanan berlebihan dari kerokan bisa merusak pembuluh darah yang lebih dalam, berisiko menyebabkan perdarahan internal. Healthline menyebutkan bahwa walaupun kejadian ini jarang, mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki gangguan pembekuan darah harus sangat berhati-hati. Selalu konsultasikan dulu dengan tenaga medis sebelum melakukan kerokan jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.
3. Iritasi dan Kemerahan Kulit
Gesekan alat kerokan pada kulit dapat menimbulkan kemerahan dan iritasi sesaat. Reaksi ini umumnya hilang dalam beberapa jam hingga satu hari, tetapi bagi kulit sensitif, iritasi dapat berlangsung lebih lama disertai rasa gatal atau perih. Medical News Today juga mengingatkan bahwa penggunaan minyak atau lotion yang tidak sesuai dapat memperparah iritasi. Oleh sebab itu, pemilihan produk yang cocok untuk jenis kulit sangat dianjurkan.
4. Efek Sistemik yang Tidak Diinginkan
Kerokan tidak hanya berdampak lokal pada kulit, tetapi juga bisa memicu reaksi peradangan ringan yang memengaruhi sistem saraf dan limfatik. Beberapa orang mengalami pusing atau kelelahan setelah kerokan. Jika gejala tersebut muncul, sangat disarankan untuk menghentikan aktivitas ini dan konsultasi ke dokter.
5. Pelebaran Pori-Pori Kulit
Kerokan yang dilakukan secara sering dan dengan tekanan kuat berisiko membuat pori-pori kulit membesar. Hal ini terjadi karena stimulan mekanik yang berlebihan dapat merusak kolagen dan elastin, dua komponen penting yang menjaga kekencangan kulit. WebMD memperingatkan kerusakan struktur kulit dapat membuatnya tampak kendur dan kurang sehat.
6. Penularan Penyakit
Pemakaian alat kerokan yang tidak higienis atau bergantian dengan orang lain dapat menyebarkan penyakit. Luka kecil akibat kerokan bisa menjadi pintu masuk bakteri dan virus. Oleh karena itu, menjaga alat dan kebersihan kulit sangat vital untuk mencegah infeksi.
7. Infeksi Kulit
Luka akibat kerokan cenderung rentan terhadap infeksi jika alat yang digunakan tidak steril. Infeksi bisa ditandai oleh kemerahan, bengkak, nanah, bahkan demam. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, segera temui dokter agar mendapatkan penanganan yang memadai dan menghindari komplikasi yang lebih serius.
8. Risiko Stroke
Meski jarang terjadi, kerokan dengan tekanan ekstrem pada area leher berpotensi merusak pembuluh darah utama dan meningkatkan risiko stroke. Healthline mengingatkan bahwa kerokan di area leher harus dilakukan dengan sangat hati-hati, bahkan lebih baik dihindari oleh orang yang tidak berpengalaman.
Kerokan memang memberikan rasa nyaman sementara, tetapi diketahui memiliki berbagai risiko tersembunyi yang dapat membahayakan kesehatan, khususnya jika dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai. Memahami potensi bahaya ini dapat membantu kita mengambil langkah pencegahan seperti menggunakan alat yang bersih, menerapkan teknik lembut, dan berkonsultasi pada ahli medis terutama bila memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dengan pendekatan yang tepat, risiko kerokan bisa diminimalkan tanpa menghilangkan manfaat tradisionalnya.
Source: www.beautynesia.id





