40 Juta Orang Indonesia Alami Kolesterol Tinggi, Risiko Penyakit Jantung Meningkat Drastis!

Data terbaru menunjukkan sekitar 40 juta orang dewasa di Indonesia memiliki kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) yang tinggi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke, yang merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Meskipun jumlah yang terdampak besar, banyak pasien belum mendapatkan terapi yang memadai, sehingga angka kematian akibat komplikasi kardiovaskular terus meningkat.

Sebuah studi internasional INTERASPIRE yang dipublikasikan di European Heart Journal pada 2024 mengungkapkan bahwa hanya 16,6 persen pasien penyakit arteri koroner di Indonesia yang berhasil mencapai target kadar LDL-C di bawah 70 mg/dL. Hal ini menunjukkan rendahnya kepatuhan terhadap panduan terapi serta minimnya kontrol faktor risiko lain seperti tekanan darah, diabetes, dan obesitas. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya partisipasi pasien dalam program rehabilitasi jantung.

Tingkat Risiko Kardiovaskular Meningkat karena Kadar Kolesterol Tinggi

Kadar LDL kolesterol yang tinggi disebut juga sebagai "kolesterol jahat" karena dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis, yang kemudian memicu gangguan aliran darah ke jantung dan otak. Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. Ade Meidian Ambari, menegaskan bahwa target kadar LDL kolesterol bagi pasien risiko sangat tinggi saat ini direkomendasikan di bawah 55 mg/dL, jauh lebih ketat daripada rekomendasi sebelumnya yang di angka 70 atau 100 mg/dL.

Dr. Ade menjelaskan, semakin rendah kadar LDL, semakin rendah risiko kejadian kardiovaskular mayor. Namun, pencapaian target rendah ini sulit dilakukan hanya dengan penggunaan satu obat (monoterapi). Oleh sebab itu, pendekatan pengobatan yang efektif dan aman sangat dibutuhkan untuk menurunkan kadar LDL kolesterol secara optimal.

Pendekatan Terapi Dual-Inhibition: Solusi Efektif untuk Menurunkan LDL-C

Dalam praktik terkini, terapi kombinasi atau dual-inhibition menjadi strategi yang lebih tepat untuk mengatasi kadar kolesterol tinggi. Kombinasi rosuvastatin dan ezetimibe merupakan metode optimal yang bekerja dengan mekanisme berbeda. Rosuvastatin menekan produksi kolesterol di hati, sedangkan ezetimibe menghambat penyerapan kolesterol dari usus halus.

Menurut Dr. Ade, terapi ini terbukti mampu menurunkan LDL-C lebih dari 50 persen, bahkan pada dosis rendah. Terapi dual-inhibition ini juga menunjukkan risiko efek samping yang lebih rendah dibandingkan monoterapi statin konvensional. Daewoong Pharmaceutical Indonesia menyediakan terapi dislipidemia dengan berbagai pilihan dosis (10/5 mg, 10/10 mg, 10/20 mg), termasuk dosis rendah pertama yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan pasien.

Hambatan dan Upaya Peningkatan Akses Terapi

Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, Baik In Hyun, menyoroti bahwa kegagalan pasien menurunkan LDL kolesterol secara efektif menjadi masalah utama dalam pengendalian penyakit kardiovaskular. Selain itu, kurangnya edukasi dan akses terhadap terapi berkualitas masih menjadi tantangan signifikan.

Perbaikan akses terapi dan edukasi kesehatan menjadi hal yang sangat penting untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit jantung dan stroke. Program rehabilitasi jantung juga harus didorong agar pasien lebih patuh menjalani pengobatan dan perubahan gaya hidup.

Faktor Risiko Pendukung

Selain kadar kolesterol tinggi, faktor lain seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas juga berkontribusi besar terhadap risiko kardiovaskular. Data dari studi INTERASPIRE menggambarkan bahwa kontrol tekanan darah pada pasien penyakit jantung di Indonesia juga masih kurang memadai, demikian halnya dengan pengendalian diabetes dan obesitas.

Oleh karena itu, intervensi komprehensif yang melibatkan pengelolaan semua faktor risiko utama sangat dibutuhkan guna meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi komplikasi fatal.

Pentingnya Deteksi Dini dan Konsultasi Medis Rutin

Mengingat prevalensi kolesterol tinggi yang cukup besar, pemeriksaan kesehatan rutin dan deteksi dini sangat penting dilakukan. Konsultasi dengan dokter spesialis maupun tenaga medis profesional dapat membantu menentukan terapi paling cocok dan mengawasi efektivitasnya.

Terapi dual-inhibition yang tersedia saat ini memberikan harapan baru bagi pasien kolesterol tinggi dan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk mencapai target LDL-C yang ketat serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Perubahan pola hidup sehat juga wajib didorong bersamaan dengan terapi medis untuk hasil optimal.

Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, potensi penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia bisa semakin meningkat dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi jutaan penduduk.

Source: lifestyle.viva.co.id

Exit mobile version