
Ghosting selama ini kita kenal dalam konteks hubungan asmara, yaitu ketika seseorang tiba-tiba menghilang dan memutus komunikasi tanpa penjelasan. Namun, fenomena ghosting tidak terbatas hanya pada hubungan romantis saja. Kajian psikologi sosial membuktikan bahwa ghosting juga muncul dalam berbagai aspek kehidupan lain, mulai dari persahabatan hingga lingkungan profesional, bahkan situasi kesehatan. Melalui penjelasan berikut, kita dapat memahami tipe-tipe ghosting lain yang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari.
Berbagai penelitian telah mengupas dampak ghosting di luar ranah asmara. Hal ini menunjukkan bahwa ghosting merupakan fenomena sosial yang lebih luas dan sering kali menimbulkan luka emosional mendalam. Melansir Psychology Today dan studi ilmiah terkait, berikut ini adalah tipe-tipe ghosting yang jarang diketahui banyak orang.
Prison Ghosting
Salah satu bentuk ghosting yang unik adalah prison ghosting, yakni situasi ketika seorang narapidana berharap dikunjungi oleh keluarga atau sahabat, namun orang yang dinanti tidak datang. Moran dan Disney (2017) dalam penelitian mereka menyampaikan bahwa prison ghosting memberikan dampak emosional berat bagi narapidana, termasuk rasa ditolak, dilupakan, dan hilangnya harapan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana ghosting dapat terjadi dalam hubungan keluarga dan sosial yang lebih luas, bukan hanya antar pasangan.
Friendship Ghosting
Ghosting juga terjadi dalam hubungan pertemanan. Friendship ghosting merujuk pada hilangnya komunikasi tiba-tiba antara sahabat tanpa ada penjelasan. Menurut studi Yap dkk. (2021) berjudul "From Best Friends To Silent Ends", friendship ghosting ternyata lebih sering terjadi dibandingkan ghosting dalam konteks romantis. Meskipun secara sosial bentuk ini lebih bisa diterima, dampaknya cukup menyakitkan karena seseorang kehilangan dukungan emosional dari teman dekat yang selama ini menjadi support system penting dalam kehidupan.
Workplace Ghosting
Dalam konteks pekerjaan, ghosting sering muncul ketika pelamar kerja tidak mendapat kabar selanjutnya setelah wawancara, atau karyawan yang tiba-tiba meninggalkan pekerjaan tanpa pemberitahuan. Penelitian Teichert (2025) dalam tinjauan berjudul "The Behavioural Trend Of Ghosting In The Professional Context" menunjukkan bahwa workplace ghosting lebih sering terjadi di lingkungan profesional dibandingkan dunia akademik. Fenomena ini dapat merusak komunikasi, menghambat proses organisasi, bahkan menurunkan produktivitas sebuah perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan etika komunikasi dalam konteks kerja agar hubungan profesional tetap sehat.
Cancer Ghosting
Salah satu bentuk ghosting yang paling menyedihkan adalah cancer ghosting, yaitu ketika seseorang yang didiagnosis menderita kanker justru mengalami penarikan dukungan dari orang terdekatnya. Fitch (2025) dalam publikasinya "A New Side Effect Of Cancer?" mencatat hampir 90 persen pasien kanker pernah merasakan ghosting ini. Dampaknya sangat besar, mulai dari rasa sedih, kecewa, bingung, hingga rasa bersalah. Kondisi mental pasien pun bisa memburuk akibat kehilangan dukungan yang seharusnya hadir di saat-saat sulit. Fenomena ini menunjukkan bahwa ghosting tidak hanya sekadar hilangnya komunikasi, tetapi juga bisa berkontribusi pada krisis emosional yang serius.
Tipe-tipe ghosting di atas menggambarkan bahwa fenomena ini bukanlah hal sepele dan hanya terjadi pada hubungan percintaan. Ghosting juga bisa muncul dalam ikatan sosial, profesional, bahkan dalam situasi sangat sensitif seperti kesehatan. Memahami tipe-tipe ini penting agar kita lebih peka terhadap tanda-tanda ghosting lain dan mampu memberikan respon yang lebih empatik, baik sebagai pelaku maupun korban ghosting. Pengetahuan tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat dan institusi untuk menciptakan interaksi yang lebih sehat dan terbuka di berbagai bidang kehidupan.
Source: www.beautynesia.id





