5 Fakta Unik Keraton Solo: Sejarah Berdiri dan Warisan Budaya yang Menarik Dibaliknya

Shopee Flash Sale

Keraton Surakarta Hadiningrat atau lebih dikenal sebagai Keraton Solo adalah salah satu warisan budaya Jawa yang terletak di pusat Kota Surakarta, Jawa Tengah. Keraton ini berdiri sejak abad ke-18 dan menjadi simbol kejayaan serta pusat kebudayaan yang masih hidup hingga kini. Selain menjadi kediaman resmi raja Kasunanan Surakarta, Keraton Solo juga menjadi destinasi wisata budaya yang memikat, kaya akan sejarah, arsitektur filosofis, dan koleksi pusaka bernilai tinggi.

Keraton Solo didirikan pada tahun 1743 dan diresmikan pada 17 Februari 1745 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II setelah keraton lama di Kartasura mengalami kehancuran akibat pemberontakan. Keraton ini menjadi penerus sah Kesultanan Mataram pasca Perjanjian Giyanti 1755 yang membagi kerajaan menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya, keraton ini mengukuhkan posisinya sebagai pusat seni dan kebudayaan Jawa bagian timur yang masih dilestarikan hingga sekarang.

1. Berdiri Sejak Abad ke-18 sebagai Pusat Kekuasaan Mataram
Keraton Solo resmi berdiri setelah pemindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Desa Sala, wilayah yang kini dikenal sebagai Surakarta. Keputusan ini diambil oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II pada 1743 sebagai langkah strategis setelah keraton lama hancur karena pemberontakan. Dengan begitu, Keraton Solo menjadi simbol kesinambungan dan penerus Kesultanan Mataram di era baru setelah peristiwa pembagian wilayah kerajaan pada 1755.

2. Arsitektur Kaya Simbol dan Filosofi Jawa
Keunikan Keraton Solo terlihat dari arsitekturnya yang tidak sekadar megah tetapi sarat makna. Gapura Gladag dan Kori Brodjonolo, misalnya, menunjukkan perjalanan spiritual menuju kesucian batin. Bangunan Sitihinggil yang dibangun sekitar 1766 adalah tempat penting untuk upacara kerajaan dan penobatan raja, dengan sentuhan simbolis berupa tanah harum dari Tolowangi. Menara Panggung Sangga Buwana menjadi bagian mistis, konon digunakan raja untuk semedi dan berkomunikasi dengan Nyai Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan.

3. Koleksi Benda Pusaka Bernilai Sejarah Tinggi
Keraton ini berfungsi sebagai museum hidup dengan koleksi pusaka bernilai tinggi seperti gamelan kuno, wayang kulit, manuskrip klasik, serta perhiasan kerajaan berlapis emas dan batu permata. Ndalem Ageng Prabasuyasa menyimpan pusaka suci yang digunakan dalam pengambilan sumpah raja sebelum penobatan. Delapan meriam tua yang tersebar di kompleks keraton masing-masing memiliki nama dan legenda, sebagai simbol perlindungan sekaligus saksi sejarah panjang Kasunanan Surakarta.

4. Kompleks Keraton yang Luas dengan Fungsi Beragam
Tidak hanya sebuah istana, Keraton Solo terdiri dari berbagai bangunan dengan fungsi khusus. Sasana Sewaka digunakan untuk upacara adat dan pertunjukan seni, Sasana Handrawina sebagai ruang perjamuan kerajaan, dan area seperti Baleroto dan Kori Kamandungan adalah tempat transit bagi tamu penting. Kedhaton merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan yang dianggap paling suci. Halaman kedhaton dilapisi pasir hitam dari Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi, melambangkan harmoni antara dunia spiritual dan dunia nyata sesuai filosofi Jawa.

5. Pusat Kebudayaan dan Wisata Edukatif yang Tetap Hidup
Hingga kini, Keraton Surakarta Hadiningrat aktif sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang rutin menyelenggarakan pertunjukan seni tradisional seperti gamelan dan tari klasik serta upacara adat Grebeg Maulud dan Sekaten. Keraton juga terbuka untuk wisatawan dengan harga tiket sangat terjangkau, yakni Rp4.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak, serta jam kunjungan dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB (kecuali Jumat). Selain menikmati arsitektur dan koleksi benda pusaka, pengunjung dapat merasakan suasana spiritual dan ketenangan khas budaya Jawa yang terjaga.

Keraton Solo menjadi contoh nyata bagaimana sebuah warisan budaya dapat terus dipertahankan dan menjadi sumber pembelajaran tentang sejarah, seni, dan filosofi hidup masyarakat Jawa. Dengan peran aktif dalam upaya pelestarian budaya, keraton ini tidak hanya melestarikan masa lalu, melainkan juga menginspirasi generasi masa kini dan mendatang untuk menghormati tradisi dan nilai luhur bangsa.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button