Banyak perusahaan di Indonesia mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan transformasi digital walaupun sudah menginvestasikan dana besar untuk teknologi. Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar mengadopsi teknologi, melainkan juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan lingkungan bisnis yang mendukung.
Riset doktoral dari Universitas Prasetiya Mulya mengungkap bahwa sinergi antara kesiapan teknologi, kompetensi SDM, dan kepekaan terhadap lingkungan bisnis menjadi faktor utama keberhasilan transformasi digital. Studi ini dilakukan oleh Sonny Sintong Panutur dengan metode campuran sekuensial, melibatkan data dari 207 responden perusahaan di sektor ritel, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta keuangan.
Faktor Kunci dalam Transformasi Digital
Hasil penelitian menunjukkan tiga faktor utama yang menentukan suksesnya transformasi digital, yaitu:
- Kesiapan Teknologi
- Kompetensi dan Kesiapan SDM
- Lingkungan Bisnis yang Mendukung
Sonny menjelaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, tetapi perubahan cara berpikir dan strategi organisasi. Ia menyebut bahwa agility organisasi adalah kunci agar perusahaan mampu beradaptasi dan bertahan dalam ketidakpastian pasar.
Peran Agility Organisasi dan Partisipasi Konsumen
Temuan riset ini juga menegaskan pentingnya agility organisasi dan partisipasi konsumen dalam meningkatkan kinerja bisnis. Indrawan Ditapradana, Direktur Human Capital Management Telkomsel, menyatakan banyak perusahaan gagal efektif karena kurang memperhatikan aspek agility dan keterlibatan pelanggan.
Menurutnya, investasi teknologi tanpa peningkatan agility organisasi serta partisipasi aktif konsumen tidak akan menjamin keberhasilan transformasi digital. Oleh karena itu, perusahaan perlu memprioritaskan pengembangan SDM dan strategi inklusif bagi konsumen.
Dukungan Akademis dan Implikasi Bisnis
Wakil Dekan I SBE Prasmul, Dr. Agus Salim, menilai riset ini memberikan kontribusi penting dalam manajemen dan kewirausahaan modern. Ia menekankan perlunya adaptasi manusia dan organisasi terhadap perubahan yang cepat agar transformasi digital dapat berhasil.
Universitas Prasetiya Mulya yang menjadi tempat penelitian ini juga menegaskan komitmennya untuk mengembangkan solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia bisnis Indonesia. Melalui riset tersebut, universitas berharap pelaku industri dapat memahami pentingnya kesiapan SDM dan lingkungan sebagai tulang punggung transformasi digital.
Dampak Gagal Adaptasi Transformasi Digital
Kegagalan beradaptasi dengan digitalisasi telah menyebabkan beberapa perusahaan besar berhenti beroperasi di Indonesia. Contohnya, GS Supermarket menutup seluruh gerainya hanya dalam dua tahun terakhir, diikuti oleh LuLu Hypermarket yang sudah lebih dulu menghentikan layanan.
Kondisi ini menggarisbawahi transformasi digital sebagai syarat mutlak agar bisnis bisa bertahan dan berkembang dalam lanskap ekonomi yang semakin terdigitalisasi dan dinamis.
Pemahaman mendalam dan implementasi bersama antara teknologi, SDM, dan lingkungan bisnis menjadi fondasi yang harus dimiliki perusahaan. Organisasi yang mampu menerapkan ketiganya secara seimbang punya peluang lebih besar untuk mempertahankan kinerja dan berinovasi di era digital.
Dengan terus mengasah agility dan membangun ekosistem bisnis yang responsif, transformasi digital akan menjadi lebih dari sekadar langkah teknologi, melainkan strategi berkelanjutan untuk masa depan bisnis Indonesia.
Baca selengkapnya di: www.suara.com





