Stop Gesekan Kantor: 5 Langkah Empati Satukan Ritme Kerja Milenial dan Gen Z

Shopee Flash Sale

Berbagai generasi kini bekerja berdampingan di kantor dengan karakteristik dan kebiasaan yang berbeda. Milenial dan Gen Z, dua generasi muda yang dominan, seringkali menunjukkan perbedaan dalam gaya komunikasi dan ritme kerja yang dapat memicu gesekan. Hal ini bisa menjadi tantangan serius jika tidak dikelola dengan tepat.

Namun, dengan pendekatan empati dan strategi komunikasi yang tepat, gesekan tersebut justru dapat diubah menjadi peluang kolaborasi produktif. Laporan Deloitte Gen Z & Millennial Survey 2025 mengungkapkan bahwa generasi milenial dan Gen Z saat ini lebih memprioritaskan makna kerja, kesejahteraan, dan pengembangan karier dibanding sekadar gaji. Untuk itu, berikut adalah lima langkah empati yang bisa membantu menyatukan ritme kerja antara milenial dan Gen Z di kantor.

1. Dengarkan Sebelum Merespons
Setiap generasi membawa latar belakang dan cara pandang yang berbeda. Mendengarkan dengan penuh perhatian mengurangi asumsi dan membuka ruang dialog yang lebih sehat sehingga komunikasi bisa berlangsung efektif.

2. Samakan Bahasa Komunikasi
Milenial cenderung menyukai komunikasi yang terstruktur dan lengkap. Sebaliknya, Gen Z lebih nyaman dengan pesan singkat dan cepat. Kesepakatan mengenai gaya komunikasi yang disepakati bersama akan membantu menyamakan frekuensi dan mengurangi miskomunikasi.

3. Fokus pada Tujuan Bersama
Daripada memperdebatkan metode kerja, penting untuk menitikberatkan pada hasil dan tujuan yang hendak dicapai. Fleksibilitas dalam pendekatan kerja memungkinkan kedua generasi bekerja lebih efektif tanpa benturan.

4. Rayakan Perbedaan sebagai Kekuatan
Milenial membawa nilai pengalaman, stabilitas, dan kepekaan proses. Sementara itu, Gen Z menawarkan inovasi, kecepatan, dan kemampuan teknologi yang tinggi. Menghargai kontribusi unik dari masing-masing generasi memperkaya kinerja tim secara keseluruhan.

5. Ciptakan Ruang Percakapan yang Aman
Suasana kerja yang terbuka untuk berbagi ide, perasaan, dan pengalaman tanpa takut dihakimi akan mempererat hubungan antar generasi. Cara ini lebih efektif dibanding pelatihan kaku yang hanya satu arah.

Menurut Ninien Irnawati, CEO Migunani & Co., pengelolaan keberagaman generasi di tempat kerja harus berlandaskan empati. Tempat kerja yang inklusif bisa memperkuat budaya organisasi sekaligus meningkatkan performa. Sedangkan Sheilla Quinita, CCO Migunani & Co., menambahkan bahwa tujuan utama adalah membangun konektivitas manusia, bukan untuk menonjolkan satu generasi di atas yang lain.

Program Bridging Generations at Work yang dikembangkan Migunani & Co. menjadi contoh nyata bagaimana organisasi dapat menyatukan perbedaan tersebut. Program ini mengedepankan latihan dan diskusi untuk menyelaraskan ekspektasi serta gaya komunikasi yang berbeda antara Milenial dan Gen Z. Layanan ini mencakup training, executive coaching, dan recruitment services yang berfokus pada people-first dan impact-driven.

Perbedaan antara milenial dan Gen Z sebenarnya saling melengkapi. Milenial mampu mengelola konteks dan proses, sedangkan Gen Z membawa kecepatan dan inovasi teknologi. Dengan pengelolaan yang tepat berbasis empati, kolaborasi lintas generasi bisa berjalan lancar dan menguntungkan bagi perkembangan organisasi ke depan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button