Sering merasa lelah meski sudah tidur cukup? Rasa letih yang muncul bukan selalu berasal dari aktivitas fisik berat, melainkan kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari menguras energi mental dan emosional. Psikolog menyebut beberapa kebiasaan ini sebagai penyebab utama ‘kebocoran energi’ yang membuat kita cepat merasa capek meskipun tubuh tampak sehat.
Berpindah-pindah mengerjakan banyak tugas sekaligus adalah kebiasaan yang banyak dilakukan. Namun, menurut Dr. Sanam Hafeez, PsyD, seorang neuropsikolog dari New York City, multitasking justru membuat otak bekerja lebih keras untuk beradaptasi ulang setiap kali berpindah tugas. Hal ini menyebabkan energi kognitif cepat terkuras meskipun waktu yang dihabiskan tidak bertambah lama. Lebih baik fokus menyelesaikan satu tugas dengan penuh perhatian sebelum beralih ke yang lain agar energi otak tidak cepat habis.
Kebiasaan menunda pekerjaan ternyata juga menjadi faktor kelelahan mental. Dr. Hafeez menjelaskan bahwa penundaan terjadi karena cemas dan menolak menghadapi tugas, bukan karena malas. Pikiran akan terus-terusan berputar memikirkan tugas yang belum selesai, sehingga membentuk siklus stres yang menghabiskan energi mental tanpa hasil nyata. Memulai dengan langkah kecil seperti menulis satu tugas yang dapat diselesaikan hari ini dapat membangkitkan energi positif dan menghindarkan dari kelelahan akibat overthinking.
Selain itu, terlalu sibuk untuk menyenangkan orang lain juga berdampak pada energi pribadi. Dr. Hafeez menyebut bahwa kebiasaan “people pleaser” membuat seseorang merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain padahal itu bukan hal yang bisa dikendalikan. Akibatnya, energi emosional terkuras karena terus menekan perasaan sendiri. Penting untuk belajar berkata “tidak” tanpa rasa bersalah sebagai bentuk menjaga batasan demi kesejahteraan mental.
Tumpukan barang yang berserakan di sekitar kita juga memicu kelelahan mental. Dr. Madison White, PsyD, psikolog klinis, mengatakan bahwa kekacauan visual adalah beban sensorik yang membutuhkan perhatian otak untuk memilah mana yang penting. Semakin banyak benda berserakan, semakin banyak energi yang terpakai. Menata ruang kerja atau kamar tidur bisa membantu otak beristirahat dari kebisingan visual dan mengurangi kelelahan.
Kebiasaan memutar ulang peristiwa atau kekhawatiran dalam pikiran disebut ruminating, yang menurut Dr. White membuat otak terus berlari tanpa henti. Hal ini menguras energi emosional karena pikiran tidak diberikan waktu untuk “shut down.” Mengalih perhatian dengan fokus pada sensasi fisik seperti aroma udara atau suara di sekitar membantu menghentikan pikiran yang berputar tanpa arah.
Terakhir, membuat terlalu banyak keputusan sepele juga memakai energi mental secara signifikan. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue, di mana kualitas keputusan penting menurun akibat kelelahan membuat banyak keputusan kecil. Dr. White menyarankan membuat rutinitas sederhana seperti memilih menu sarapan tetap atau pakaian favorit agar mengurangi keputusan tak perlu dan menghemat energi untuk hal besar.
Berbagai kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele tersebut sebenarnya merupakan sumber utama penguras energi mental dan emosional. Dengan menyadari kebiasaan ini, kita dapat mulai mengelola pola hidup agar energi lebih terjaga. Memfokuskan perhatian, menghindari penundaan, menjaga batasan emosional, merapikan lingkungan, mengelola pikiran, dan menyederhanakan pengambilan keputusan menjadi langkah praktis yang bisa membantu mengurangi kelelahan yang tidak jelas penyebabnya. Menata ulang kebiasaan sehari-hari adalah kunci menjaga stamina mental agar lebih prima dalam menjalani aktivitas.
