
Putri Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Yasika Aulia Ramadhani, tengah menjadi sorotan publik. Berusia 20 tahun, Yasika mengelola 41 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Selatan, sebuah fakta yang mencuri perhatian saat peresmian dapur MBG di Bone pada 14 November 2025.
Yasika adalah anak dari Yasir Machmud, politisi Partai Gerindra yang juga Ketua Umum KONI Sulsel. Yayasan Yasika Group yang digawangi oleh Yasika mengelola 41 dapur MBG yang tersebar di beberapa daerah, termasuk 16 dapur di Makassar dan 10 dapur di Kabupaten Bone. Program MBG sendiri bertujuan untuk memberikan makanan sehat secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan.
Program MBG awalnya dicanangkan untuk memberdayakan UMKM lokal dan meningkatkan kesejahteraan melalui kerjasama dengan koperasi, BUMDes, dan pelaku usaha mikro. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyatakan bahwa sekitar 80 persen anggaran MBG dialokasikan untuk pembelian bahan baku lokal agar berdampak positif bagi UMKM dan petani setempat.
Meski demikian, viralnya kepemilikan 41 dapur MBG oleh Yasika memunculkan kontroversi di media sosial. Banyak warganet menyuarakan kritik terkait dominasi keluarga pejabat dalam proyek yang seharusnya membuka peluang bagi UMKM. Sindiran dan komentar satir mengenai keluarga politisi yang menguasai proyek-proyek pemerintah pun ramai beredar.
Badan Gizi Nasional menanggapi hal ini dengan mengeluarkan aturan terbaru bahwa satu yayasan hanya boleh mengelola maksimal 10 dapur MBG. Sebelumnya, sistem pengajuan mitra dilakukan secara digital tanpa batasan jumlah dapur per yayasan. Wakil Ketua BGN, Nanik S. Deyang, mengonfirmasi bahwa Yasika kemungkinan mengelola dapur MBG tersebut melalui beberapa yayasan yang berbeda.
Untuk menjadi mitra program MBG, syarat utama meliputi aktif di bidang penyediaan makanan bergizi, penggunaan bahan lokal, serta kepemilikan dokumen resmi seperti KTP, NPWP, dan NIB. Program ini bertujuan tidak hanya meningkatkan nutrisi masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 850 tenaga kerja yang dipekerjakan di dapur MBG yang beroperasi.
Sejauh ini, Yasika dan ayahnya belum memberikan komentar terkait viralnya isu kepemilikan 41 dapur MBG tersebut. Kolom komentar Instagram keduanya bahkan telah ditutup untuk menghindari perdebatan lebih lanjut.
Viralnya kasus ini menjadi cermin penting tentang transparansi dan pemerataan akses dalam program-program pemerintah. Proyek yang seharusnya memberdayakan pelaku usaha kecil kini mendapat sorotan karena didominasi kalangan elit politik. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana program MBG kedepannya bisa benar-benar bermanfaat luas bagi masyarakat tanpa kecemburuan sosial.
Yasika Aulia Ramadhani yang muda dan aktif dalam yayasan pengelola MBG membuka perdebatan penting soal sinergi antara pemerintah, UMKM, dan pihak swasta. Meski program MBG punya tujuan mulia, implementasi yang adil dan transparan menjadi kunci utama keberhasilan jangka panjang. Pemerintah dan Badan Gizi Nasional terus mengawasi dan menyesuaikan regulasi agar program ini tepat sasaran.
Kisah Yasika pun mengingatkan publik untuk terus mengawal program sosial demi manfaat maksimal masyarakat luas. Masyarakat tetap berharap proyek MBG dapat mendukung ekonomi lokal sekaligus menjamin pangan bergizi tanpa adanya dominasi kelompok tertentu. Kasus ini menjadi contoh penting bagaimana governance dan akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan sosial harus diprioritaskan.





