Green Jobs Meningkat, Tapi Anak Muda Daerah Masih Kesulitan Mendapatkan Informasi Lengkap

Minat anak muda terhadap green jobs semakin meningkat signifikan. Survei Koaksi Indonesia bersama BOI Research pada 2024 mencatat 76 persen responden muda tertarik berkarier di sektor ramah lingkungan setelah mengetahui peluangnya.

Motivasi bukan hanya soal finansial, melainkan keinginan memberi dampak positif bagi bumi. Sayangnya, akses informasi dan pelatihan di daerah masih sangat terbatas. Anak muda di wilayah seperti NTT kesulitan menjangkau peluang ini meski potensi energinya besar.

Minat Tinggi Tapi Akses Terbatas

Potensi green jobs tidak hanya dari energi terbarukan, tapi juga pengelolaan sampah, pertanian berkelanjutan, dan ekosistem pesisir. Namun, Ridwan Arif, Manajer Riset Koaksi Indonesia menyatakan banyak daerah belum punya ekosistem pendukung yang kuat.

“Kita butuh strategi komprehensif dan kampanye publik agar minat dan talenta muda bisa berkembang sejak dini,” ujar Ridwan. Kondisi ini membuat peluang green jobs masih terasa jauh bagi talenta daerah.

Yurgen Nubatonis dari Dewan Pengawas KOPI menegaskan kurangnya program konkret yang mendukung ide anak muda di sektor hijau. “Meski punya ide bagus, mereka kekurangan dukungan pelatihan dan sumber daya,” jelas Yurgen.

Potensi Besar NTT sebagai Contoh

NTT memiliki peluang besar di bidang energi surya dan sumber daya alam lainnya. Pemerintah daerah bahkan sedang menyusun Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim untuk sektor prioritas seperti pertanian, air, dan ekosistem pesisir.

Yohanes Paut dari Bapperida NTT menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan berkelanjutan dapat membuka peluang ekonomi baru seperti pengolahan sampah. Namun, kesiapan tenaga kerja lokal menjadi tantangan utama.

Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknik UNDANA, Dr. Ir. Erich Umbu K. Maliwemu, mengungkapkan berbagai inovasi energi bersih telah dilakukan. Misalnya, teknologi desalinasi dan pengolahan sampah plastik yang berpotensi mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil.

Upaya Koaksi Indonesia

Menanggapi ketimpangan akses, Koaksi Indonesia mengadakan Green Jobs Workshop di NTT dan Sulawesi Tengah pada November 2025. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan membangun kepemimpinan anak muda di sektor hijau.

Ridwan menyatakan, “Workshop ini mengajak berbagai pihak mulai dari akademisi hingga komunitas agar transisi energi merata ke daerah.” Inisiatif ini juga memperkuat jejaring lintas daerah agar talenta lokal mendapatkan pelatihan dan dukungan yang memadai.

Bonus Demografi dan Tantangan Pendidikan

Wilayah timur Indonesia sedang mengalami pertumbuhan pesat usia produktif. Jika diarahkan ke green jobs, bonus demografi ini dapat mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan.

Namun, Yohanes Paut mengingatkan bahwa tanpa peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan vokasi, potensi anak muda tidak akan optimal. “Tanpa itu, bonus demografi tidak akan menghasilkan dampak yang berarti,” tegasnya.

Membuka Ruang untuk Talenta Daerah

Pemerintah hingga perguruan tinggi sepakat sektor hijau punya peluang besar. Tantangannya adalah memastikan anak muda di daerah mendapat informasi, keterampilan, dan ruang berkreasi yang cukup.

Dengan inisiatif seperti Green Jobs Workshop, harapan untuk memajukan green jobs dari kawasan Timur semakin nyata. Ini bukan hanya mengurangi kesenjangan, tetapi juga menyiapkan generasi penerus yang tangguh menghadapi tantangan lingkungan.

Generasi muda di kota besar telah mulai melirik green jobs, kini giliran talenta dari daerah berpotensi besar untuk ikut ambil bagian. Transisi energi Indonesia tidak akan berhasil tanpa kontribusi dari wilayah yang punya sumber daya hijau terbanyak.

Mungkin, masa depan hijau Indonesia akan bersinar paling terang dari Timur.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version