Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam kunjungan wisatawan di wilayah tersebut pada akhir tahun 2025. Peningkatan ini berlaku untuk wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara dan didorong oleh berbagai kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah.
Menurut Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jabar, Ninik Anisah, jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Kertajati mengalami lonjakan 118,2 persen secara bulanan. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang menggunakan moda transportasi Whoosh juga naik 34,5 persen, dan wisatawan nusantara meningkat 4,8 persen pada periode yang sama.
Data Kunjungan Wisman dan Wisnus
BPS Jabar mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Kertajati pada Desember sebanyak 395 kunjungan. Jumlah tersebut naik dari 181 kunjungan pada November. Meskipun ada kenaikan bulanan, secara tahunan jumlah ini turun drastis sebesar 68,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 10.309 kunjungan. Dominasi wisatawan mancanegara masih berasal dari Singapura.
Sebaliknya, kedatangan warga negara asing yang menggunakan layanan Whoosh menunjukkan tren positif. Total pengunjung mencapai 23.025 pada Desember dan sepanjang tahun mencapai 200.308 kunjungan. Angka ini menunjukkan kenaikan 41,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 141.971 kunjungan.
Untuk wisatawan nusantara, pencatatan menggunakan teknologi Big Data dengan Mobile Positioning Device (MPD) yang memanfaatkan sinyal seluler menghasilkan data perjalanan sebanyak 18,53 juta perjalanan pada Desember. Angka ini naik 4,89 persen dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, total perjalanan wisatawan nusantara mencapai 211,76 juta perjalanan, meningkat 26,50 persen dari tahun lalu sebanyak 167,40 juta perjalanan, sekaligus menjadi rekor sejak 2021.
Destinasi Utama dan Tren Perhotelan
Wilayah Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek), dan Bandung Raya menjadi tujuan utama wisatawan nusantara, menyumbang 52,06 persen dari total kunjungan sepanjang tahun. Hal ini memberi dampak positif pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Jawa Barat yang mencapai 58,13 persen pada Desember. Angka ini naik 4,59 poin dari November, meskipun terjadi penurunan 0,43 poin secara tahunan.
Kota Bandung menjadi kota dengan TPK hotel bintang tertinggi yakni 69,64 persen, disusul Kota Cirebon dengan 66,26 persen dan Kota Bogor 65,24 persen. Sedangkan hotel non bintang mencatat TPK sebesar 27,51 persen, meningkat 4,03 poin dari bulan sebelumnya dan naik 0,66 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Rata-rata lama menginap wisatawan asing di hotel berbintang mencapai 2,38 malam. Kota Purwakarta menempati posisi tertinggi dengan rata-rata menginap 6,28 malam, diikuti Karawang sebanyak 6,23 malam. Wisatawan domestik rata-rata menginap selama 1,28 malam.
Peningkatan Kunjungan dan Kontribusi Pemerintah
Data yang dihimpun oleh BPS Jawa Barat ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur dan meningkatkan promosi wisata berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Meski terdapat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara secara tahunan, peningkatan wisatawan nusantara yang signifikan dan pertumbuhan penggunaan moda transportasi modern membuktikan adanya peluang penguatan potensi wisata di Jawa Barat.
Kunjungan wisatawan yang meningkat juga berdampak pada sektor perhotelan, khususnya hotel berbintang yang mencatat tingkat hunian kamar tinggi. Hal ini pun diharapkan menumbuhkan aktivitas ekonomi dan memperkuat posisi Jawa Barat sebagai destinasi wisata unggulan nasional. Kabupaten dan kota di sekitar kawasan Bodebek dan Bandung Raya akan terus menjadi fokus utama pengembangan destinasi dan fasilitas penunjang wisata bari meningkatkan daya tarik kunjungan.
Secara keseluruhan, data BPS Jabar menunjukkan tren positif yang mendukung optimisme terhadap prospek pariwisata Jawa Barat di masa mendatang. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat terus memaksimalkan upaya agar pertumbuhan kunjungan wisata ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat serta perekonomian daerah.
Baca selengkapnya di: megapolitan.antaranews.com




