BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem Jatim: Monsun Asia dan Gangguan Gelombang Atmosfer

BMKG Jelaskan Penyebab Utama Cuaca Ekstrem di Jawa Timur

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda mengungkap penyebab cuaca ekstrem yang berpotensi melanda Jawa Timur dalam beberapa hari ke depan. Aktivitas monsun Asia yang menguat dan gangguan gelombang atmosfer menjadi faktor dominan pemicu kondisi tersebut.

Menurut Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan yang sebagian bahkan masih berada pada puncaknya. Ia menyatakan, "Dalam 10 hari ke depan diprakirakan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat." Cuaca ekstrem ini diperkirakan memicu hujan lebat, angin kencang, hingga potensi bencana hidrometeorologi.

Faktor Penyebab Cuaca Ekstrem

BMKG mencatat adanya gelombang atmosfer seperti Low Frequency, Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin yang sedang melintasi wilayah Jawa Timur. Pergerakan gelombang ini memperkuat aktivitas monsun Asia yang berperan meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang cukup hangat serta kondisi atmosfer yang labil juga mendukung pembentukan awan konvektif penyebab hujan disertai petir dan angin kencang.

Daerah Berisiko dan Imbauan BMKG

BMKG Juanda mengidentifikasi puluhan wilayah di Jawa Timur yang memiliki potensi terdampak cuaca ekstrem. Berikut daftar wilayah dengan risiko tinggi:

  1. Kabupaten: Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep
  2. Kota: Kediri, Blitar, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto, Madiun, Surabaya, Kota Batu

Taufiq juga mengimbau agar masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah bertopografi curam seperti pegunungan dan tebing, meningkatkan kewaspadaan. Risiko seperti banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan berkurangnya jarak pandang perlu diantisipasi dengan serius.

Anjuran Pemantauan dan Kesiapsiagaan

BMKG mengajak masyarakat aktif memantau perkembangan cuaca melalui berbagai kanal resmi. Informasi peringatan dini disampaikan melalui website BMKG, media sosial, layanan telepon 24 jam, serta WhatsApp resmi BMKG Juanda. Taufiq menegaskan pentingnya kewaspadaan untuk mengurangi dampak negatif akibat cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung selama 10 hari ke depan.

Pemahaman terhadap faktor pemicu cuaca ekstrem oleh BMKG diharapkan dapat membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi dan tanggap darurat. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi di Jawa Timur.

Baca selengkapnya di: www.detik.com

Terkait