Rel KA Terganggu Parah, Banjir Luapan Sungai Babon dan Kaligung Rendam Semarang hingga 1,5 Meter, Warga Siaga dan Aktivitas Lumpuh di Jawa Tengah

Hujan lebat yang mengguyur wilayah Jawa Tengah menyebabkan banjir merendam beberapa daerah pada Senin pagi. Kondisi ini turut mengganggu perjalanan kereta api di jalur utama Pantura.

Banjir setinggi 50 sentimeter terjadi di Genuk, Kota Semarang, akibat meluapnya Sungai Babon. Luapan sungai membuat rel kereta api di dua titik jembatan penting sempat terendam air.

Titik terendam yaitu Jembatan BH 46 Km 21+9/0 pada jalur antara Stasiun Tegowanu dan Stasiun Brumbung serta Jembatan BH 59 Km 27+9/0 antara Stasiun Gubug dan Stasiun Tegowanu. Akibatnya, perjalanan KA arah timur dari Semarang sempat terganggu.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif menyatakan, banjir mulai surut pada pukul 04.35 WIB sehingga perjalanan kereta api yang sempat terhenti bisa kembali berjalan normal. Upaya pemantauan terus dilakukan untuk memastikan jalur tetap aman.

Selain jalur kereta, banjir juga melanda permukiman dan area persawahan. Di Kabupaten Semarang, ratusan rumah di Perumahan Cemara dan Adiyasa Kusuma, Kecamatan Ungaran Timur, terendam banjir akibat luapan Sungai Kaligung.

Seorang warga setempat, Suseno, menjelaskan bahwa hujan lebat turun sepanjang malam. Mereka berjaga semalaman untuk menghadapi banjir yang datang dini hari. Kesigapan ini membantu mengurangi dampak terhadap keselamatan warga.

Di daerah Sayung, Demak, banjir dengan ketinggian 20 hingga 100 sentimeter turut menyulitkan aktivitas masyarakat. Selain rumah, jalan utama dan perkampungan juga terendam, menghambat mobilitas warga secara signifikan.

Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto menerangkan, penyebab utama banjir adalah luapan sungai dan drainase yang tidak mampu menampung volume air hujan yang besar. Hal ini terjadi di sejumlah titik rawan.

Beberapa wilayah terdampak banjir paling parah antara lain Kecamatan Tembalang serta beberapa perumahan seperti Argo Residence Rowosari, Grand Batik Semarang Meteseh, Grand Permata Tembalang, dan Perumahan Dinar Indah Meteseh. Ketinggian air sempat mencapai 1,5 meter di lokasi-lokasi tersebut.

Perkembangan terbaru menunjukkan ketinggian air mulai menurun menjadi 20 sampai 30 sentimeter pada pagi hari. Meski demikian, pihak berwenang tetap waspada mengingat potensi curah hujan yang masih tinggi.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus melakukan pemantauan dan upaya penanganan banjir secara terpadu. Evakuasi dan bantuan untuk warga terdampak sudah disiapkan guna meminimalisir kerugian.

Gangguan perjalanan kereta api akibat banjir ini menjadi peringatan penting terkait kesiapsiagaan dan manajemen risiko bencana banjir di Jawa Tengah. Peningkatan sistem drainase dan normalisasi sungai menjadi langkah strategis yang harus dipercepat.

Kondisi banjir yang terjadi juga mengingatkan perlunya koordinasi lintas sektor untuk memitigasi risiko bencana alam, khususnya di daerah dataran rendah dan sekitar sungai yang rawan banjir. Masyarakat diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button