
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan berkat kerja kolaboratif antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan elemen masyarakat lainnya. Setelah genap satu tahun memimpin, pasangan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maemoen mencatat berbagai capaian positif yang menjadi bukti kemajuan pembangunan wilayah ini.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan tersebut. Pemprov Jawa Tengah telah menjalin kerja sama dengan 44 perguruan tinggi sepanjang tahun lalu, di mana institusi akademik ini memberi kontribusi berupa ide, gagasan, dan hasil riset yang mendukung pembangunan daerah. Bahkan pada tahun ini, sebanyak 73 perguruan tinggi resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah provinsi untuk memperkuat sinergi tersebut.
Penghargaan untuk Pelaku Kolaborasi
Dalam acara Anugerah Collaborative Award di Semarang, gubernur memberikan penghargaan kepada pemerintah kabupaten/kota dan perguruan tinggi yang dinilai menunjukkan performa terbaik dalam mendukung pembangunan. Enam kabupaten/kota menerima penghargaan, yaitu Banyumas, Surakarta, Boyolali, Pemalang, Magelang (kota), dan Magelang (kabupaten). Di sektor pendidikan tinggi, enam universitas terbaik yang dianugerahi penghargaan adalah Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Muria Kudus (UMK), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemimpin bukanlah "superman" yang bisa bekerja sendiri, melainkan perlu membangun “super tim” melalui pemerintahan kolaboratif dengan berbagai pihak. Dengan wilayah Jawa Tengah yang luas dan terdiri dari 35 kabupaten/kota, kerja sama antarelemen menjadi faktor utama percepatan pembangunan.
Capaian Pembangunan Tahun Ini
Berbagai indikator ekonomi dan sosial menunjukkan tren positif selama 2025. Jawa Tengah berhasil menjadi lumbung pangan dengan produktivitas padi mencapai sekitar 9,5 juta ton. Pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan hasil menggembirakan dengan laju 5,37 persen, yang berada di atas rata-rata nasional. Angka kemiskinan mengalami penurunan menjadi 3,34 juta penduduk atau turun sekitar 21,87 ribu orang dibandingkan awal tahun. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,66 persen, menandakan perbaikan kondisi tenaga kerja.
Dari sisi investasi, realisasi modal masuk Provinsi Jawa Tengah mencapai Rp88,50 triliun, yang merupakan angka tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Data ini menunjukkan kepercayaan investor yang meningkat terhadap potensi dan prospek ekonomi Jawa Tengah.
Langkah-Langkah Kolaborasi Pemerintah dan Perguruan Tinggi
Kolaborasi ini juga difokuskan pada penyusunan strategi bersama yang melibatkan pemerintah kabupaten/kota dan perguruan tinggi. Berikut beberapa langkah strategis yang dijalankan:
- Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah provinsi dan perguruan tinggi untuk mendukung riset dan inovasi.
- Pemberian penghargaan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi terhadap kontribusi nyata pelaku pembangunan.
- Pengembangan program-program yang menargetkan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor pertanian, pendidikan, dan ekonomi.
- Monitoring serta evaluasi bersama untuk memastikan setiap program kolaboratif mencapai sasaran secara efektif.
Keberhasilan kerja sama ini menunjukkan bahwa pembangunan Jawa Tengah tidak hanya bergantung pada pemerintah provinsi semata, tetapi juga pada peran aktif berbagai pihak secara sinergis. Pendekatan kolaboratif ini menjadi model pemerintah daerah dalam mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan dan inklusif di masa mendatang.
Source: lampung.tribunnews.com




