Wagub Emil Pastikan Listrik Jatim Tetap Kuat dan Stabil Hadapi Ramadhan dan Idul Fitri 2026 Meski Beban Turun Drastis

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan pasokan listrik di wilayahnya dalam kondisi aman dan siap memenuhi kebutuhan selama bulan suci Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan kerja ke PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali serta Unit Pelaksana Pengatur Beban Jawa Timur di Sidoarjo.

Berdasarkan data dari PLN, saat beban puncak tertinggi di Jawa Timur mencapai 2.036 MW pada subsistem Krian-Gresik, kapasitas daya mampu netto mencapai 2.638 MW dengan cadangan sekitar 22 persen atau setara 602 MW. Kondisi ini menunjukkan pasokan listrik cukup hingga menampung lonjakan konsumsi pada masa Ramadhan dan Idul Fitri.

Penguatan Jaringan dan Sistem Distribusi

Untuk masa siaga Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI), PT PLN menyiagakan 22 posko dengan total personel mencapai 1.207 di wilayah Jawa Timur dan Bali. Infrastruktur pendukung terdiri atas 173 gardu induk, 394 unit trafo dengan kapasitas total 29.195 MVA, serta jaringan transmisi sepanjang lebih dari 8.300 kilometer sirkuit. Meski cadangan daya memadai, Emil menyebutkan perlu adanya penguatan jaringan pada titik-titik transmisi dengan beban tinggi guna menjaga keandalan distribusi listrik.

Menurut Emil, selain kapasitas daya, stabilitas sistem kelistrikan juga menjadi perhatian penting. Tren penurunan beban listrik hingga 30 persen selama Ramadhan dan Idul Fitri dibandingkan hari normal berpotensi menyebabkan kenaikan tegangan yang membahayakan sistem jika tidak dilakukan pengendalian secara real time. Kondisi ini menuntut konfigurasi jaringan yang kuat untuk meminimalisasi dampak gangguan pada satu titik yang bisa meluas ke area lain.

Pengembangan Infrastruktur dan Energi Hijau

Emil mengapresiasi rencana pembangunan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) di Waru. Gardu induk ini diharapkan dapat memperkuat sistem kelistrikan di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila yang saat ini masih bergantung pada titik Krian dan Gresik. Pengembangan tersebut penting untuk menghindari risiko gangguan pada jaringan yang padat.

Selain itu, optimalisasi jaringan dilakukan melalui metode uprating untuk meningkatkan kapasitas tanpa perlu membuka jalur transmisi baru di kawasan padat penduduk. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan menjaga kenyamanan masyarakat.

Dalam aspek energi terbarukan, Emil menegaskan pentingnya percepatan pengembangan energi hijau di Jawa Timur. Proyek yang sedang berjalan meliputi pemanfaatan panas bumi sebesar 34 MW dan rencana pembangkit listrik tenaga surya di Pasuruan serta Banyuwangi. Pengembangan energi hijau tidak hanya mendukung isu lingkungan, tetapi juga menjadi kebutuhan strategis untuk mendongkrak daya saing industri di provinsi tersebut.

Pemantauan ketat serta koordinasi antara pemerintah daerah dan PLN menjadi kunci agar pasokan listrik di Jawa Timur tetap stabil dan andal selama Ramadhan dan Idul Fitri. Kesiapan infrastruktur dan inovasi pengelolaan energi juga diharapkan mampu mengantisipasi tantangan kelistrikan ke depan.

Source: sabdanews.com

Berita Terkait

Back to top button