Kader IPM Jateng Lolos DPRemaja 4.0 Berjuang Suarakan Pelajar Sehat Tanpa Asap Rokok di Panggung Nasional

Kader IPM Jawa Tengah Terpilih dalam DPRemaja 4.0, Suarakan Pelajar Sehat Tanpa Asap Rokok

Kader Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Tengah berhasil lolos sebagai peserta Dewan Perwakilan Remaja (DPRemaja) 4.0. Abi Umaroh dan Syifa Yustiana terpilih mewakili dapil Jawa Tengah dalam program nasional yang fokus pada advokasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

DPRemaja 4.0 diselenggarakan oleh Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC). Program ini bertujuan memperkuat kapasitas advokasi pelajar terkait implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, terutama pengendalian konsumsi produk tembakau.

Sebanyak 11 peserta terpilih berasal dari tiga daerah fokus, yakni Lombok Utara, DKI Jakarta, dan Semarang-Solo Raya, dari 1.463 pendaftar seluruh Indonesia. Abi dan Syifa mengikuti rangkaian bimbingan teknis (BIMTEK) di Jakarta selama lima hari pada awal Februari.

Pelatihan tersebut melatih kemampuan komunikasi kebijakan, penyusunan policy brief, pemetaan aktor, serta strategi advokasi berbasis pengalaman dan simulasi kebijakan. Abi menegaskan bahwa keterlibatan kader IPM ini merupakan wujud komitmen pelajar Muhammadiyah dalam mengawal kebijakan kesehatan yang pro generasi muda.

“Setelah BIMTEK, kami kembali ke dapil untuk menjalankan advokasi mengenai implementasi KTR dan bahaya konsumsi produk tembakau khususnya bagi pelajar,” ujar Abi. Ia menambahkan bahwa upaya pencegahan harus diawali dengan literasi kebijakan yang komprehensif.

Pada tahap berikutnya, Abi dan Syifa akan menjalani masa reses mulai Februari hingga Mei. Mereka akan melakukan penelitian lapangan di Kota Semarang dan Solo Raya untuk melihat implementasi pengendalian produk tembakau dan KTR secara langsung.

Dalam masa reses, mereka juga membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan daerah guna memperkuat strategi advokasi kebijakan KTR. Temuan lapangan dan hasil advokasi akan didiseminasikan pada forum nasional DPRemaja 4.0 di Jakarta pada Juni mendatang.

Syifa menekankan bahwa pengendalian tembakau tidak bisa dilakukan secara parsial. “Butuh kolaborasi sinergis antara birokrasi pemerintah, lembaga kesehatan, institusi pendidikan, dan organisasi kepemudaan,” jelas Syifa.

Menurutnya, pendekatan yang kolaboratif menjadi fondasi agar kebijakan KTR tidak hanya berhenti sebagai regulasi di atas kertas. Implementasi yang efektif di lapangan akan memberikan perlindungan kesehatan yang nyata, khususnya bagi pelajar dan remaja.

Keberhasilan Abi dan Syifa menandakan kiprah kader IPM Jawa Tengah tidak hanya di ruang organisasi formal. Mereka juga hadir aktif dalam advokasi kebijakan publik nasional guna memastikan suara pelajar terdengar dalam isu kesehatan dan perlindungan generasi muda.

Source: suaraaisyiyah.id

Terkait