
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen memulai Gerakan Jawa Tengah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) di 35 kabupaten/kota secara serentak. Kegiatan ini bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional, yang dipusatkan dengan aksi bersih-bersih sampah di Pantai Jodo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang.
Di lokasi aksi, Ahmad Luthfi mengoperasikan alat berat loader untuk mengangkat timbunan sampah yang terdiri atas plastik, kayu, dan limbah rumah tangga. Sampah tersebut kemudian dipindahkan ke truk pengangkut yang telah disiapkan, dengan Wakil Gubernur Taj Yasin mendampingi langsung proses tersebut.
Pelibatan Masyarakat dan Berbagai Unsur
Aksi bersih pantai ini melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai elemen, termasuk TNI, Polri, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, relawan, mahasiswa, dan warga setempat. Di saat yang sama, kegiatan serupa dilakukan di 35 wilayah kabupaten/kota lain di Jawa Tengah dengan kepala daerah setempat memimpin dan berkoordinasi melalui daring.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Jawa Tengah
Menurut Gubernur Ahmad Luthfi, Jawa Tengah menghadapi permasalahan serius terkait sampah, dengan produksi mencapai hampir 6,36 juta ton per tahun. Saat ini, baru sekitar 60 persen sampah yang dapat diproses secara optimal, sementara 40 persen sisanya masih menjadi persoalan serius. Data ini menuntut penanganan yang lebih terukur dan aksi nyata.
"Target nasional zero waste pada 2029 membutuhkan langkah konkret dan terukur di tingkat daerah," ujar Ahmad Luthfi. Ia menegaskan bahwa komitmen administratif tanpa rencana aksi nyata tidak cukup. Semua bupati dan wali kota diminta menyerahkan data penanganan sampah masing-masing untuk dirumuskan dalam pembahasan di tingkat pusat.
Penguatan Pengelolaan Pesisir dan Penghijauan
Selain pengelolaan sampah, Gubernur juga menyoroti pentingnya menjaga garis pantai Jawa Tengah sepanjang kira-kira 920 kilometer. Program penghijauan pesisir yang dikenal dengan Gerakan Mageri Segoro di 17 kabupaten/kota dengan wilayah pantai menjadi prioritas. Penanaman mangrove serta vegetasi pesisir dipandang sebagai cara ampuh menekan risiko abrasi dan mengurangi dampak bencana lingkungan.
Hingga akhir tahun lalu, penanaman bibit mangrove telah mencapai hampir dua juta bibit, dan target penanaman bakal terus meningkat pada tahun ini. Penguatan pengelolaan pesisir dan penghijauan ini menjadi bagian integral dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kawasan pesisir Jawa Tengah.
Inovasi Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Widi Hartanto, memaparkan, aksi bersih ini adalah tindak lanjut dari surat edaran gubernur terkait Gerakan Jateng ASRI. Program pengolahan sampah dengan teknologi berbasis refuse derived fuel (RDF) sudah berjalan di beberapa daerah seperti Cilacap, Banyumas, dan Magelang.
Sementara itu, pengolahan sampah menjadi energi listrik sudah berlangsung di Kota Surakarta. Pemerintah provinsi juga mendorong transformasi tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Kolaborasi pemanfaatan RDF dengan industri semen juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah di beberapa wilayah.
Partisipasi Publik sebagai Kunci Keberhasilan
Melalui Gerakan Jateng ASRI, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan percepatan transformasi sistem pengelolaan sampah. Selain itu, gerakan ini bertujuan memperkuat partisipasi publik dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, sehingga upaya pengelolaan sampah lebih efektif dan berdampak luas.
Kegiatan yang berlangsung serentak di seluruh daerah tersebut menunjukkan komitmen kolektif dalam menghadapi persoalan lingkungan, khususnya sampah, dengan pendekatan yang lebih terintegrasi dan melibatkan semua elemen masyarakat.
Source: malang.times.co.id




