
DPW PKS Jawa Timur baru saja menggelar peringatan Nuzulul Qur’an dengan suasana penuh khidmat. Acara yang berlangsung pada Sabtu diawali dengan kehadiran pengurus wilayah, kader, serta tokoh PKS dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menekankan bahwa Nuzulul Qur’an merupakan momentum untuk memperkuat pemahaman dan gerakan perubahan. Bagus menyatakan, wahyu pertama yang turun bukan sekadar ayat, melainkan lahirnya pergerakan transformasi peradaban umat.
Ayat pertama yang memerintahkan membaca, Iqra’, menurut Bagus, memiliki makna yang luas. Ia mengajak kader untuk membaca realitas, memahami tantangan zaman, serta menyiapkan arah masa depan umat secara visioner dan strategis.
Bagus mengingatkan proses turunnya Al-Qur’an selama 23 tahun yang terbagi dalam periode Makkah dan Madinah. Model bertahap ini menegaskan bahwa pembangunan peradaban Islam berawal dari penanaman nilai dan karakter terlebih dahulu.
Ia menyampaikan pentingnya tauhid dan akhlak yang kuat sebelum membangun struktur organisasi atau strategi dakwah. Bagus mengingatkan, kekuatan tanpa nilai akan rapuh, dan kemenangan tanpa keberkahan akan kehilangan makna.
Berangkat dari nilai tersebut, Bagus mengajak kader PKS Jawa Timur untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai blueprint dalam seluruh aktivitas perjuangan. Baik dalam pengembangan karakter pribadi, strategi dakwah, maupun pelayanan kepada masyarakat.
Bagus menegaskan tiga penguatan strategis yang harus menjadi fokus kader PKS Jawa Timur, yaitu ruhiyah, fikriyah, dan harokah. Ketiga aspek ini saling melengkapi untuk membangun kader yang kuat dan berdaya guna.
Pertama, penguatan ruhiyah dengan menghidupkan tilawah Al-Qur’an secara rutin, memperbanyak qiyamul lail, dan menjaga halaqah pembinaan agar menjadi media yang hidup dan bermakna. Hal ini menjadi fondasi spiritual kader.
Kedua, penguatan fikriyah yang mendorong kader mampu membaca isu-isu aktual, memahami data dengan tepat, serta menghasilkan gagasan yang relevan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kecerdasan pemikiran menjadi bekal utama.
Ketiga, harokah atau gerakan yang berdampak. Bagus berharap para kader menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an secara konkret melalui pelayanan nyata. Kader PKS harus terlihat manfaatnya secara langsung oleh masyarakat luas.
Selain tausiyah dan dialog reflektif, peringatan Nuzulul Qur’an juga diisi dengan kegiatan khataman Al-Qur’an yang diikuti secara berjamaah oleh para pengurus DPW PKS Jawa Timur. Khataman tersebut menjadi wujud syukur sekaligus penguatan spiritual.
Para peserta secara bergantian membaca 30 juz Al-Qur’an hingga selesai bersama-sama. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen kader dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, baik dari aspek tilawah, pemikiran, maupun pergerakan sosial.
Peringatan ini juga menghadirkan tausiyah dari Ustaz Dr. Jamaluddin Achmad Kholik, Lc, MA yang membahas fiqh i’tikaf menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan. Materi ini menjadi bekal agar kader mampu mengisi ibadah intensif di masa-masa yang penuh keberkahan.
Bagus menutup sambutannya dengan harapan besar agar Jawa Timur menjadi basis lahirnya kader-kader Qur’ani yang kokoh. Basis ini diharapkan melahirkan kepemimpinan yang amanah dan pelayanan masyarakat yang bermanfaat.
Ia meyakini jika nilai-nilai Al-Qur’an terinternalisasi kuat dalam diri kader, maka perjalanan dakwah dan perjuangan PKS akan membawa keberkahan dan manfaat untuk umat. Nuzulul Qur’an menjadi momentum penguatan tridharma kader: tilawah, fikrah, dan harokah.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatim.pks.id








