PMI Jatim Gandeng PWI Bentuk Relawan Jurnalis Palang Merah, Perkuat Peran Media Hadapi Bencana dan Krisis Kemanusiaan

Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur untuk membentuk relawan jurnalis Palang Merah. Kerja sama ini bertujuan membangun jaringan relawan berbasis profesi jurnalistik yang berfokus pada layanan kepalangmerahan dan penanganan bencana di wilayah Jawa Timur.

Imam Utomo, Ketua PMI Jatim, menyampaikan gagasan tersebut saat buka puasa bersama pengurus PWI Jatim di kantor PMI Jatim. Ia menegaskan pentingnya menjadikan PWI sebagai mitra strategis, serta mewujudkan pembentukan satuan relawan jurnalis Palang Merah yang dapat melakukan bimbingan teknis di beberapa daerah.

Kerja sama PMI dan PWI ini diharapkan bisa terstruktur dan terlembaga dengan baik. Menurut Imam, jurnalis selama ini telah banyak mendampingi perjalanan kariernya, sehingga kebersamaan itu perlu terus diperkuat dalam rangka mendukung aktivitas kemanusiaan PMI.

Jawa Timur sebenarnya dijadwalkan menjadi tuan rumah Temu Karya Relawan PMI pada April tahun depan. Namun, acara tersebut ditunda menjadi April tahun berikutnya atas keputusan Ketua Umum PMI Pusat, Jusuf Kalla. Rencana melibatkan PWI Jatim dalam acara itu tetap berjalan dan diharapkan relawan jurnalis Palang Merah dari anggota PWI ikut ambil bagian.

Dalam pertemuan tersebut hadir pula sejumlah pengurus PMI, seperti Fatah Yasin (Sekretaris Dewan Kehormatan), Edi Indrayana (Wakil Ketua), dan Nur Wiyatno (Sekretaris). Dari PWI Jatim hadir Sekretaris Syaiful Anam, Wakil Ketua Mahmud Suhermono, Wakil Sekretaris Sokip, serta pengurus lainnya.

Syaiful Anam menyampaikan kesiapan PWI Jatim untuk mendukung seluruh aktivitas PMI, termasuk pembentukan relawan jurnalis Palang Merah. Selain itu, PWI Jatim menyerahkan buku autobiografi K’Tut Tantri berjudul Revolusi di Nusa Damai kepada Imam Utomo.

Buku tersebut mengisahkan kiprah K’Tut Tantri selama di Indonesia sebagai relawan Palang Merah Internasional dan penyiar radio perjuangan dalam pertempuran 1945 di Surabaya. Tokoh ini merupakan simbol perjuangan kemanusiaan yang kini perlu lebih dikenal masyarakat.

Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dhimam Abroor, juga memberikan dukungan penuh terhadap ide Imam Utomo. Ia menyebut langkah mengintegrasikan PWI dalam agenda strategis PMI sebagai suatu langkah positif yang layak diapresiasi.

Dhimam menegaskan perlunya mengangkat kembali sosok K’Tut Tantri agar publik di Surabaya tidak melupakan peran besarnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan dan kemanusiaan. Sosok ini dianggap sangat berkontribusi, terutama dalam keterlibatan Palang Merah dan radio perjuangan arek-arek Surabaya peristiwa 10 November 1945.

Dukungan ini menjadi sinyal kuat bagi kolaborasi PMI dan PWI untuk memperkuat layanan relawan, khususnya melalui keterlibatan para jurnalis yang memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi sehingga mampu memberikan kontribusi nyata di bidang kemanusiaan dan kebencanaan di Jawa Timur.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: kilasjatim.com

Berita Terkait

Back to top button