Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapatkan alokasi dana mencapai Rp 1 miliar per bulan. Dana tersebut langsung beredar secara merata di wilayah masing-masing melalui mekanisme virtual account yang terhubung ke seluruh SPPG di Indonesia.
Program MBG yang saat ini sudah berjalan selama lebih dari dua bulan ini tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Program ini juga berperan penting sebagai penggerak roda ekonomi di daerah. Mayoritas anggaran BGN disalurkan langsung ke daerah supaya dapat menunjang aktivitas ekonomi lokal dan pemenuhan pangan berbasis sumber daya daerah.
Penggerak Ekonomi Daerah Melalui Program MBG
Dadan memberikan gambaran terkini tentang perputaran uang akibat program MBG di tingkat provinsi. Sebagai contoh, di Jawa Barat sudah terdapat sekitar 5.000 SPPG yang secara kolektif menerima dana mencapai Rp 5 triliun per bulan. Dengan periode berjalan selama 2,5 bulan, total dana yang beredar secara kumulatif di Jawa Barat melebihi Rp 11 triliun.
Angka tersebut menunjukkan skala besar dari dampak ekonomi yang tercipta. SPPG di berbagai daerah menstimulus pembelian bahan pangan dari produsen lokal, sehingga membuka peluang pasar yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha kecil menengah di sektor pangan. Hal ini sejalan dengan fokus program MBG untuk menguatkan ketahanan pangan lokal sekaligus mendukung perekonomian daerah.
Pendekatan Pemanfaatan Sumber Daya Lokal dan Lapangan Kerja
Program MBG sengaja didesain agar bahan baku kebutuhan pangan dipasok secara lokal. Pendekatan ini sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam produksi pangan, termasuk pembukaan lapangan kerja baru. Tenaga kerja yang diserap mulai dari tenaga operasional dapur hingga tenaga ahli gizi yang direkrut dari komunitas setempat.
Dadan menegaskan, banyak pemerintah daerah kini semakin memahami dan mendorong agar dana program ini digunakan untuk membeli produk dan bahan baku lokal. Model ekonomi sirkular di daerah ini dinilai mampu mengoptimalkan produktivitas lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
Mekanisme Distribusi Dana dan Penyesuaian Gizi
Sekitar 93 persen alokasi anggaran BGN disalurkan langsung melalui KPPN ke virtual account setiap SPPG yang jumlahnya telah mencapai 25.574 unit di seluruh Indonesia. Dengan cara ini, pemerataan manfaat dana program MBG dapat terjamin hingga pelosok daerah.
Setiap dapur MBG juga didampingi oleh tenaga ahli gizi lokal. Kehadiran ahli gizi bertujuan memastikan menu dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi sumber daya daerah serta preferensi masyarakat setempat. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan kesehatan dan ketepatan sasaran program.
Dampak Nyata Program MBG di Jawa Barat
Berikut ilustrasi data dampak dana MBG di Jawa Barat:
- Jumlah SPPG: 5.000 unit
- Dana per SPPG per bulan: Rp 1 miliar
- Total dana beredar per bulan: Rp 5 triliun
- Perputaran dana selama 2,5 bulan: Rp 11-12 triliun
- Dampak ekonomi: membuka pasar lokal dan lapangan kerja baru
Secara keseluruhan, program MBG bukan sekadar program sosial, namun telah menjadi katalisator penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan. Pemerintah melalui BGN terus mengoptimalkan distribusi dana serta peningkatan sumber daya manusia di wilayah agar program ini memberikan manfaat maksimal baik dari segi gizi masyarakat maupun perekonomian daerah.
Kondisi ini menunjukkan keberhasilan pendekatan berbasis lokal dalam mengatasi masalah gizi sekaligus memperkuat kapasitas ekonomi di berbagai daerah di Indonesia. Program MBG menjadi salah satu model kebijakan yang mengintegrasikan aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi secara sinergis di tingkat lokal.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: nasional.kompas.com