Masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi, memeriahkan Lebaran hari kedua dengan pelaksanaan tradisi Barong Ider Bumi. Tradisi ini menarik ribuan pengunjung yang memadati jalanan Desa Kemiren sejak pagi, menandai momen sakral penolakan bala dan ungkapan rasa syukur masyarakat Suku Osing.
Barong Ider Bumi merupakan ritual adat bersejarah yang berasal dari abad ke-19. Tokoh adat setempat, Suhaimi, menjelaskan bahwa pada masa itu desa pernah dilanda wabah dan gagal panen akibat serangan hama. Tradisi ini lahir dari petunjuk leluhur melalui mimpi untuk mengarak Barong keliling kampung guna mengusir kemalangan yang melanda.
Makna dan Pelaksanaan Ritual Barong Ider Bumi
Barong, simbol perlindungan berupa makhluk bermahkota dengan sayap megah, dipercaya mampu mengusir marabahaya yang mengancam desa. Sebelum arak-arakan dimulai, tokoh pelestari menyampaikan doa di petilasan Mbah Buyut Cili sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu.
Arak-arakan Barong menempuh jarak sekitar dua kilometer, bergerak dari timur ke barat Desa Kemiren. Sepanjang rute, tradisi sembur uthik-uthik dilakukan dengan menebarkan 999 koin logam, beras kuning, dan bunga. Gerakan ini bukan hanya ritual, tetapi juga menjadi rebutan warga karena diyakini membersihkan dari energi negatif dan sial.
Peran Barong Ider Bumi dalam Wisata dan Budaya Banyuwangi
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyampaikan bahwa Barong Ider Bumi kini resmi masuk ke kalender Banyuwangi Attraction 2026. Kegiatan ini menjadi daya tarik wisata budaya unggulan yang rutin digelar setiap tahun dan berhasil mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah.
Hartono mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang menjadi kunci suksesnya penyelenggaraan acara ini. Penetapan tradisi ini sebagai acara resmi diharapkan memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi yang kaya akan budaya dan adat istiadat unik.
Puncak Acara dan Kuliner Khas Desa Kemiren
Rangkaian ritual diakhiri dengan prosesi selamatan kampung secara massal. Makanan khas yang disajikan adalah Tumpeng Pecel Pitik, sebuah sajian tradisional yang wajib hadir dalam setiap perayaan sakral.
Pecel Pitik menggunakan ayam kampung muda yang dipanggang utuh di atas kayu bakar. Daging kemudian disuwir dan dicampur dengan bumbu kelapa muda, cabai rawit, terasi, dan daun jeruk. Aroma khas dan cita rasa rempah memperkuat makna kebersamaan dan syukur yang mendalam antarwarga desa.
Barong Ider Bumi tetap menjadi simbol kuat perlindungan dan warisan budaya yang hidup dalam masyarakat Kemiren. Tradisi ini tidak hanya menjaga nilai-nilai leluhur, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik dan bermakna.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: banyuwangi.times.co.id








