PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim membukukan laba bersih Rp1,54 triliun sepanjang periode kinerja terbaru yang dirilis perseroan. Angka itu tumbuh 20,65 persen secara tahunan dibandingkan capaian pada periode sebelumnya, menurut keterangan resmi Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo di Jakarta.
Kinerja laba tersebut ditopang kenaikan penyaluran kredit, penguatan dana murah, dan pertumbuhan transaksi digital. Bank Jatim juga mencatat ekspansi aset yang kuat, seiring strategi perseroan untuk memperluas basis nasabah dan memperdalam layanan transaksi di daerah.
Dorong kredit dan dana murah
Bank Jatim menyalurkan kredit Rp67,24 triliun pada periode tersebut, naik 4,98 persen secara tahunan. Komposisi kredit terdiri dari kredit konsumer Rp36,54 triliun yang tumbuh 6,20 persen dan kredit produktif Rp30,7 triliun yang naik 3,55 persen.
Perseroan menyebut fokus utama ada pada penetrasi dana murah lewat pendekatan transaction banking dan bisnis berbasis ekosistem. Strategi ini ditujukan untuk menambah jumlah dana pihak ketiga sekaligus memperluas jumlah nasabah aktif.
DPK, nasabah, dan transaksi digital meningkat
Dari sisi pendanaan, giro Bank Jatim mencapai Rp21,4 triliun dan tumbuh 12,5 persen secara tahunan. Jumlah nasabah dana pihak ketiga juga meningkat 5,64 persen menjadi 10.915.749 nasabah, menunjukkan perluasan basis dana ritel dan korporasi.
Aktivitas digital perseroan ikut naik, terutama pada layanan JConnect IB Corporate yang mencapai 11.199 pengguna. Nilai transaksinya tercatat sebesar Rp23,36 triliun, dengan pertumbuhan pengguna 14,79 persen secara tahunan.
Berikut perkembangan utama layanan digital Bank Jatim:
- JConnect IB Corporate: 11.199 user, transaksi Rp23,36 triliun.
- QRIS Bank Jatim: 203.725 user, transaksi Rp3,94 triliun.
- Pertumbuhan transaksi QRIS: naik 47,25 persen secara tahunan.
QRIS Bank Jatim mencatat 203.725 pengguna dengan nilai transaksi Rp3,94 triliun. Kenaikan transaksi QRIS itu mencapai 47,25 persen secara tahunan dan memperlihatkan percepatan adopsi pembayaran digital di ekosistem Bank Jatim.
AGEN JATIM dan kualitas aset
Untuk memperluas layanan di wilayah yang punya potensi bisnis besar, Bank Jatim memaksimalkan peran AGEN JATIM. Perseroan menyebut jaringan 14.842 agen itu ikut membantu utilitas transaksi sekaligus mendorong penyaluran kredit, terutama lewat mekanisme referral.
Bank Jatim juga menempuh langkah perbaikan kualitas aset melalui hapus buku dan restrukturisasi. Perseroan melakukan hapus buku Rp1,03 triliun dengan recovery rate 18,6 persen atau setara Rp192 miliar, serta merestrukturisasi kredit senilai Rp4,17 triliun.
Aset dan pinjaman tumbuh kuat
Per akhir periode pelaporan, total aset Bank Jatim naik 42,93 persen menjadi Rp168,85 triliun dari Rp118,142 triliun pada periode pembanding. Penyaluran pinjaman juga tumbuh lebih tinggi, yakni 46,65 persen menjadi Rp110,50 triliun dari Rp75,35 triliun sebelumnya.
Winardi menyampaikan perseroan terus melanjutkan transformasi untuk mendukung visi menjadi BPD nomor satu di Indonesia. Ada lima pilar utama yang dijalankan, mulai dari tata kelola dan manajemen risiko, optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan teknologi informasi dan digitalisasi proses, hingga optimalisasi sinergi bisnis untuk kelompok usaha bank.
Bank Jatim menempatkan pertumbuhan laba, ekspansi aset, dan penguatan layanan digital sebagai fondasi utama untuk menjaga momentum bisnis. Perseroan kini melanjutkan upaya memperluas intermediasi sambil mempertahankan kualitas aset dan memperbesar kontribusi transaksi non-tunai di seluruh jaringan layanan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.antaranews.com








