Dedi Mulyadi Sebut Diri Gubernur Pinggiran, Pesan Tegas di Hadapan ASN Jabar

Di hadapan aparatur sipil negara Pemprov Jawa Barat di halaman Gedung Sate, Dedi Mulyadi menyebut dirinya sebagai “gubernur pinggiran” saat memimpin apel pagi yang dirangkaikan dengan halal bihalal. Pernyataan itu ia sampaikan dalam suasana yang dibuat lebih sederhana dan akrab, berbeda dari tradisi seremoni formal yang biasanya melekat pada agenda tahunan tersebut.

Acara berlangsung pada pagi hari di tengah momen silaturahmi usai Idulfitri, dengan format lesehan dan nuansa kekeluargaan yang menonjol. Dedi menekankan bahwa pendekatan itu dipilih agar birokrasi tetap fokus pada kerja pelayanan publik, bukan sekadar mengikuti rangkaian kegiatan seremonial.

Suasana berbeda di Gedung Sate

Dalam sambutannya, Dedi membuka acara dengan salam dan penghormatan kepada jajaran pimpinan daerah, termasuk wakil gubernur, para bupati dan wali kota, wakil bupati, wakil wali kota, serta ketua DPRD se-Jawa Barat. Ia juga memberi penekanan pada kehadiran seluruh pegawai Pemprov Jabar yang mengikuti kegiatan tersebut.

Dedi lalu mengucapkan terima kasih karena para ASN dan pimpinan daerah bisa berkumpul pada minggu kedua Syawal 1447 Hijriah. Ia menyebut momen itu sebagai tradisi tahunan negara yang menjadi ruang silaturahmi antarpejabat dan aparatur pemerintahan.

Kritik halus terhadap seremoni birokrasi

Dedi mengaku memahami bahwa halal bihalal selama ini identik dengan kegiatan formal yang sarat atribut dan seremonial. Ia menilai pola seperti itu masih sering terjadi di lingkungan pemerintahan, termasuk saat dirinya pertama kali menjabat sebagai bupati di Jawa Barat.

Namun, ia menegaskan bahwa kebutuhan pelayanan publik menuntut pendekatan yang lebih efisien dan tidak berjarak. Karena itu, ia memilih apel pagi sederhana sebagai format kebersamaan bersama ASN ketimbang acara yang terlalu formal dan panjang.

Apa yang dimaksud Dedi dengan “gubernur pinggiran”

Pernyataan “gubernur pinggiran” yang ia lontarkan langsung menarik perhatian para ASN yang hadir. Istilah itu ia gunakan untuk menggambarkan gaya kepemimpinan yang tidak terpusat pada ruang kantor, melainkan dekat dengan lapangan dan persoalan masyarakat.

Dedi menyebut dirinya lebih cocok disebut pemimpin yang bekerja dari wilayah pinggiran dibanding “gubernur kantoran”. Dengan cara itu, ia ingin menekankan bahwa tugas utama seorang kepala daerah adalah turun langsung melihat kondisi masyarakat dan memastikan layanan pemerintah berjalan efektif.

Poin penting dari pernyataan Dedi Mulyadi

  1. Ia memimpin apel pagi yang digabung dengan halal bihalal ASN Pemprov Jabar.
  2. Acara digelar dengan suasana lesehan dan lebih kekeluargaan.
  3. Dedi menyebut tradisi seremonial perlu disederhanakan agar fokus pada kerja.
  4. Ia menyampaikan istilah “gubernur pinggiran” untuk menggambarkan gaya kepemimpinannya.
  5. Ia menegaskan pentingnya pelayanan publik yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Gaya komunikasi Dedi dalam forum tersebut kembali menunjukkan ciri kepemimpinannya yang cenderung lugas dan tidak formalistis. Di hadapan ASN Pemprov Jabar, ia menempatkan agenda silaturahmi bukan sebagai panggung seremonial, melainkan sebagai pengingat bahwa birokrasi harus tetap dekat dengan rakyat dan bekerja responsif terhadap persoalan di lapangan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.tvonenews.com

Berita Terkait

Back to top button