Kepala Kanwil Kemenhaj Jateng Tegaskan Integrasi Petugas Haji Sejak Awal, Demi Perlindungan Jemaah

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Jawa Tengah, Fitriyanto, menegaskan pentingnya integrasi antarpetugas dalam penyelenggaraan ibadah haji. Menurut dia, petugas kloter dan petugas daerah harus sudah terhubung sejak sebelum jemaah masuk asrama agar pelayanan, pembinaan, dan perlindungan berjalan lebih maksimal.

Pernyataan itu disampaikan di tengah pembekalan dan bimbingan teknis Pendamping Haji Daerah Jawa Tengah di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Fitriyanto menyebut Pendamping Haji Daerah adalah representasi kehadiran negara bagi 34.122 jemaah haji reguler asal Jawa Tengah.

Fokus pada pelayanan jemaah

Fitriyanto menilai kerja petugas haji tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi yang kuat diperlukan supaya pembagian tugas jelas dan jemaah mendapat pendampingan yang cepat saat menghadapi kendala di lapangan.

Ia menekankan bahwa integrasi antarpetugas harus dimulai sejak tahap persiapan. Langkah ini penting karena persoalan di lapangan sering muncul sejak keberangkatan, masa penempatan, hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

Data petugas yang ikut pembekalan

Sebanyak 180 Pendamping Haji Daerah mengikuti pembekalan di Jawa Tengah. Dari jumlah itu, 86 orang bertugas di layanan kesehatan dan 94 orang bertugas di layanan umum.

Ratusan petugas tersebut akan mulai mengawal keberangkatan kloter pertama yang dijadwalkan masuk Asrama Haji Donohudan pada 21 April. Kesiapan mereka menjadi perhatian karena kualitas layanan sangat bergantung pada sinergi sejak awal.

Pesan agar petugas tidak salah prioritas

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, sebelumnya mengingatkan agar petugas haji tetap menempatkan pelayanan jemaah sebagai tugas utama. Ia menyebut pengalaman evaluasi penyelenggaraan haji sebelumnya masih menemukan keluhan dari jemaah terkait petugas yang kurang optimal melayani.

Sumarno menyampaikan bahwa kesempatan berhaji bagi petugas seharusnya dipandang sebagai bonus, bukan tujuan utama keberangkatan. Ia bahkan menegaskan sejak awal bahwa yang diikrarkan adalah menjadi petugas haji.

Persiapan teknis dan mental petugas

Perwakilan Pendamping Haji Daerah asal Kabupaten Demak, Wahid Su’udi, mengatakan timnya telah mempersiapkan diri secara menyeluruh. Persiapan itu mencakup kesiapan teknis, fisik, dan mental untuk menjalankan tugas pelayanan.

Wahid juga menuturkan bahwa berbagai potensi persoalan sudah dipetakan sejak awal. Berikut rangkaian fokus antisipasi yang disebut perlu dijaga petugas di lapangan:

  1. memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal dalam rombongan,
  2. memantau kondisi kesehatan jemaah secara berkala,
  3. memberi respon cepat terhadap kendala mobilitas,
  4. menjaga komunikasi antarpetugas agar informasi tidak terputus,
  5. mencegah jemaah terabaikan selama proses ibadah.

Menurut Wahid, tugas utama petugas adalah khidmah kepada tamu-tamu Allah. Karena itu, seluruh langkah antisipasi disusun agar jemaah tetap terlayani dengan baik sejak awal hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: suaranahdliyin.com

Berita Terkait

Back to top button