Disdik Jabar Larang Siswa Bawa Kendaraan, Sekolah Dipaksa Lebih Hemat Energi

Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong penghematan energi di lingkungan sekolah, termasuk dengan melarang siswa membawa kendaraan pribadi ke sekolah. Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran terhadap krisis energi yang disebut ikut dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan mulai berdampak ke berbagai sektor.

Kepala Disdik Jawa Barat Purwanto mengatakan arahan itu sejalan dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat sebelumnya. Ia menilai pelajar yang menggunakan kendaraan pribadi ikut menyumbang konsumsi energi, sehingga perlu diarahkan memanfaatkan transportasi umum.

Larangan Kendaraan Pribadi untuk Pelajar

Purwanto menyampaikan imbauan itu sebagai bagian dari gerakan hemat energi yang lebih luas di satuan pendidikan. Menurut dia, sekolah tidak hanya perlu menghemat listrik, tetapi juga ikut membangun kesadaran baru soal penggunaan energi sehari-hari.

“Sesuai edaran Pak Gubernur, kami mengarahkan anak-anak (pelajar) untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah. Kami dorong mereka memanfaatkan fasilitas transportasi umum,” kata Purwanto, Selasa (30/3/2026).

Kebijakan ini menempatkan sekolah sebagai ruang pembiasaan perilaku hemat energi. Langkah tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan pelajar pada kendaraan bermotor dan mendorong kebiasaan naik angkutan umum.

Efisiensi Juga Menyasar Penggunaan Listrik

Tak hanya transportasi, Disdik Jawa Barat juga meminta sekolah mengurangi pemakaian listrik secara bijak. Purwanto menekankan penggunaan perangkat elektronik, termasuk AC, harus diatur agar tidak boros energi.

“Sekolah harus menggunakan energi secukupnya. Kami membiasakan di kantor, AC tidak perlu menyala terus-menerus. Ini memerlukan kesadaran bersama,” ujarnya.

Imbauan itu mencakup kebiasaan sederhana yang berdampak langsung, seperti mematikan lampu saat ruangan tidak dipakai dan membatasi penggunaan pendingin udara. Pola ini diharapkan menjadi bagian dari budaya baru di lingkungan pendidikan.

Poin Efisiensi Energi di Sekolah

  1. Siswa diarahkan tidak membawa kendaraan pribadi.
  2. Sekolah didorong memanfaatkan transportasi umum.
  3. Lampu dimatikan saat tidak digunakan.
  4. Penggunaan AC dibatasi agar tidak menyala terus-menerus.
  5. Seluruh warga sekolah diminta terlibat dalam penghematan energi.

Butuh Komitmen Bersama

Purwanto menegaskan efisiensi energi tidak cukup dijalankan lewat instruksi kepada aparatur sipil negara di sekolah. Menurut dia, kebijakan itu hanya akan efektif jika seluruh unsur ikut bergerak, mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga masyarakat.

“Jika semua merasa efisiensi energi ini penting, maka harus menjadi komitmen bersama. Masyarakat, ASN, dan semua pihak harus terlibat, tidak cukup hanya ASN saja,” tuturnya.

Di lingkungan pendidikan, langkah penghematan energi dipandang bukan sekadar respons terhadap kondisi global, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Sekolah kini diminta menjadi tempat yang konsisten menerapkan kebiasaan hemat energi dalam aktivitas harian.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.detik.com

Berita Terkait

Back to top button