Australia Siapkan Investasi Feedlot di Jawa Timur, Sapi Dan Kulit Masuk Jalur Ekspor Halal

Pemerintah Australia menyatakan akan menanamkan investasi feedlot atau penggemukan sapi di Jawa Timur. Langkah ini dibahas dalam pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Dubes RI di Canberra Dr. Siswo Pramono, pelaku bisnis Australia, dan Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Jatim di Gedung Negara Grahadi.

Pertemuan itu juga menyoroti peluang kerja sama industri kulit, pasokan bahan baku, dan penguatan rantai nilai sapi dari Australia ke Jawa Timur. Dalam forum bertema Indonesia-Australia Leather Industry Roadshow tersebut, kedua pihak membahas model bisnis yang dinilai saling menguntungkan bagi perdagangan dan industri halal.

Australia Siap Masuk Investasi Feedlot di Jatim

Khofifah menyebut Australia telah memberi akses bagi Jawa Timur untuk memperoleh kulit sapi sebagai bahan baku industri kreatif dan rambak. Ia menilai suplai kulit masih perlu diperbesar karena kebutuhan industri kulit di Jawa Timur terus berkembang.

“Karena, industri kulit kita memang membutuhkan suplai yang lebih besar,” ujar Khofifah.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir mewakili Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur punya basis kuat di sektor industri kulit. Menurutnya, provinsi ini memiliki sekitar 709 desa berpredikat pengrajin kulit.

Selain itu, Jawa Timur juga disebut sebagai salah satu pusat industri kulit terbesar di Indonesia. Sisi hulu sektornya pun kuat, karena provinsi ini tercatat sebagai penghasil daging dan susu nasional dengan kontribusi mencapai 60 persen.

Data Peternakan dan Industri Kulit Jawa Timur

Berikut sejumlah data penting yang disampaikan dalam pertemuan tersebut:

Data Keterangan
Populasi sapi di Jatim 3,67 juta ekor
Kontribusi daging dan susu nasional 60 persen
Desa pengrajin kulit Sekitar 709 desa
Rekor inseminasi buatan 1,09 juta ekor sapi sepanjang 2025
Sapi dari Australia Utara Sekitar 500 ribu ekor masuk untuk penggemukan

Emil juga menyampaikan bahwa Jawa Timur berhasil menempati peringkat pertama penghasil daging sapi potong terbesar di Indonesia pada 2025. Provinsi ini juga mencatat Rekor MURI untuk inseminasi buatan tertinggi sebanyak 1,09 juta ekor sapi sepanjang 2025.

Rantai Bisnis Sapi Australia ke Indonesia

Dubes RI di Canberra, Siswo Pramono, menjelaskan bahwa pola kerja sama sapi antara Indonesia dan Australia sudah berjalan lama. Ia menyebut Indonesia mengambil sekitar 500 ribu ekor sapi dari Australia Utara yang saat tiba berbobot sekitar 300 kilogram, lalu digemukkan di Jawa Timur dan Sumatera hingga mencapai 600 kilogram.

“Artinya, kalau kita makan sapi dari Australia itu 50 persen diproduksi di Australia, 50 persen diproduksi di Indonesia,” kata Siswo.

Ia menambahkan bahwa kulit sapi juga bisa dimanfaatkan untuk industri makanan, sepatu, hingga tas. Pemerintah Indonesia sendiri telah membawa APKI ke Australia untuk melihat langsung rumah potong hewan yang dikelola secara halal.

Peluang Produk Halal dan Ekspor

Siswo menyebut Australia memiliki feedlot bersertifikasi halal dan pengalaman memasok daging ke negara-negara Timur Tengah. Kondisi itu dinilai membuka peluang besar bagi pengrajin Jawa Timur untuk menembus pasar global, termasuk Timur Tengah.

Menurut Siswo, kunjungan APKI ke Australia memperlihatkan proses penyembelihan yang sesuai syariat dan modern. Karena itu, daging dan kulit yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk produk halal, mulai dari rambak, sepatu, hingga tas.

“Kemarin mereka melihat sendiri bagaimana abatoar yang besar dan modern sudah melakukan penyembelihan secara syariat agama. Maka, daging dan kulitnya juga halal sehingga aman untuk dikonsumsi untuk rambak, sepatu, dan industri halal,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Australia akan mendukung investasi di Jawa Timur, termasuk rencana pengolahan wet blue atau kulit mentah sapi. Menurut dia, skema itu dapat memberi keuntungan ekonomi bagi kedua negara.

Perdagangan Indonesia-Australia Meningkat

Siswo memaparkan bahwa total perdagangan Indonesia dan Australia dalam lima tahun terakhir meningkat dari AUD 13 juta menjadi sekitar AUD 34 juta. Ia menilai kenaikan itu menunjukkan hubungan dagang kedua negara yang terus menguat.

“Jadi lompatannya tinggi, kita semakin banyak ekspor ke Australia. Ekspor kita meningkat 98 persen. Australia juga semakin banyak ekspor ke Indonesia,” katanya.

Pertumbuhan itu membuat kerja sama sektor persapian dan perkulitan dipandang strategis untuk dipertahankan. Dengan basis peternakan kuat di Jawa Timur, investasi feedlot dari Australia berpotensi memperkuat industri hulu-hilir sekaligus menambah pasokan bahan baku bagi sentra kulit di daerah tersebut.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.times.co.id

Berita Terkait

Back to top button