Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan langkah antisipatif menghadapi ancaman kemarau 2026 yang berpotensi memicu kekeringan dan mengganggu produksi pertanian. Instruksi itu muncul saat cuaca panas ekstrem atau yang belakangan disebut El Nino “Godzilla” mulai menjadi perhatian dalam menjaga ketahanan pangan di daerah.
Khofifah meminta seluruh bupati dan wali kota di Jawa Timur memperkuat koordinasi sejak dini agar dampak musim kering tidak menekan hasil panen. Langkah ini juga diarahkan untuk menjaga target swasembada pangan nasional tetap berada di jalur yang aman.
Instruksi resmi untuk daerah
Arahan tersebut tertuang dalam surat Gubernur Jawa Timur Nomor 500.6.1/10499/110/2026 sebagai tindak lanjut dari surat Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor B-73/TI. 050/M/03/2026 tertanggal 9 Maret 2026. Surat itu berisi imbauan antisipasi dini terhadap musim kemarau yang diperkirakan menimbulkan kekeringan di sejumlah wilayah.
Khofifah menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh menunggu sampai kekeringan benar-benar terjadi. Menurut dia, upaya mitigasi harus dilakukan lebih awal agar produksi pertanian tetap stabil dan kebutuhan pangan masyarakat tidak terganggu.
Risiko kemarau menurut proyeksi BMKG
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada April hingga Agustus 2026. Pada periode itu, risiko kekeringan diperkirakan meningkat di sejumlah daerah yang memiliki ketergantungan tinggi pada air hujan dan pasokan irigasi.
Kondisi tersebut membuat sektor pertanian berada di posisi rentan, terutama pada wilayah yang sudah lebih dulu mengalami tekanan ketersediaan air. Karena itu, Pemprov Jawa Timur mendorong pemetaan area rawan agar penanganan bisa dilakukan secara terukur dan tidak terlambat.
Langkah yang diminta Khofifah
Pemprov Jawa Timur meminta pemerintah kabupaten dan kota menjalankan sejumlah tindakan teknis untuk menghadapi ancaman kemarau. Berikut langkah yang disebut dalam arahan tersebut:
- Memetakan wilayah rawan kekeringan.
- Mengaktifkan sistem peringatan dini atau early warning system.
- Menggerakkan brigade kekeringan di daerah.
- Mengoptimalkan rehabilitasi jaringan irigasi dan embung.
- Memanfaatkan sumur air dangkal, pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan.
- Mendorong percepatan masa tanam di wilayah yang masih potensial.
- Menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan dan berumur genjah.
- Menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air.
Khofifah juga menekankan pentingnya laporan berkala dari daerah terkait perkembangan produksi pertanian. Data itu dinilai penting sebagai bahan monitoring dan evaluasi agar pemerintah bisa segera merespons jika ada penurunan produksi atau gangguan distribusi air.
Koordinasi lintas pihak jadi kunci
Khofifah menyebut sinergi antara pemerintah daerah, petani, penyuluh, forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam menjaga produktivitas. Ia menilai penanganan ancaman kemarau tidak cukup hanya mengandalkan satu instansi, melainkan membutuhkan kerja bersama yang cepat dan konsisten.
“Kita akan tingkatkan koordinasi dan sinergi antara Pemerintah Daerah baik Bupati Wali Kota se-Jawa Timur agar semuanya bisa mengantisipasi dini musim kemarau tahun ini,” kata Khofifah di Gedung Grahadi Surabaya.
Ia juga menegaskan bahwa produksi pertanian harus tetap dijaga agar ketahanan pangan Jawa Timur tidak melemah. Menurut dia, lumbung produksi pangan daerah harus tetap berfungsi meski iklim sedang berada dalam tekanan.
Fokus menjaga Jawa Timur sebagai lumbung pangan
Jawa Timur selama ini memegang peran penting dalam pasokan pangan nasional, sehingga gangguan hasil pertanian di provinsi ini dapat berdampak lebih luas. Karena itu, upaya penguatan irigasi, penentuan pola tanam, dan penggunaan teknologi air dipandang sebagai strategi yang mendesak untuk dijalankan.
Pemprov Jawa Timur optimistis rangkaian langkah tersebut bisa menekan dampak kemarau dan menjaga stabilitas produksi pangan. Pemerintah daerah kini diminta bergerak lebih cepat agar ancaman El Nino “Godzilla” tidak berubah menjadi gangguan serius bagi ketahanan pangan di lapangan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.detik.com








