Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah mendorong penguatan sektor pariwisata agar industri perhotelan tetap bertahan di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Ia menilai berkurangnya kegiatan rapat, pertemuan, dan agenda pemerintahan di hotel dapat menekan tingkat hunian serta memengaruhi keberlanjutan usaha perhotelan.
Mukaromah mengatakan efisiensi anggaran memang berdampak pada kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition atau MICE yang selama ini menjadi salah satu penopang utama hotel. Ia menyebut kondisi itu perlu diimbangi dengan penguatan kunjungan wisata agar okupansi kamar tidak turun terlalu jauh.
Hotel Masuk Rantai Ekonomi Pariwisata
Menurut legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII yang meliputi Banyumas dan Cilacap itu, hotel tidak bisa dipisahkan dari ekosistem pariwisata. Karena itu, ketika aktivitas MICE menyusut, arus wisatawan perlu diperbesar untuk menjaga perputaran usaha di sektor tersebut.
Ia menegaskan bahwa penguatan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan promosi semata. Pemerintah juga perlu mendorong pengembangan destinasi unggulan, perbaikan infrastruktur, dan konektivitas transportasi agar wisatawan lebih mudah datang dan tinggal lebih lama.
Langkah itu dinilai penting karena lama tinggal wisatawan akan memengaruhi tingkat hunian hotel. Semakin panjang masa kunjungan, semakin besar pula peluang sektor akomodasi, kuliner, dan jasa lain ikut bergerak.
Langkah Penguatan yang Dinilai Mendesak
- Pengembangan destinasi wisata unggulan
- Peningkatan promosi daerah
- Perbaikan infrastruktur pendukung wisata
- Penguatan konektivitas transportasi
- Pelibatan UMKM dalam rantai ekonomi pariwisata
Mukaromah menyebut keterlibatan UMKM menjadi bagian penting agar dampak ekonomi dari sektor wisata tidak berhenti di hotel saja. Ia menilai pariwisata yang tumbuh akan membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha kecil, pelaku kuliner, transportasi, dan industri kreatif.
Dampak Efisiensi terhadap Hotel
Efisiensi anggaran pemerintah membuat sebagian kegiatan yang biasanya digelar di hotel berkurang. Situasi ini dinilai langsung berpengaruh pada okupansi, terutama bagi hotel yang selama ini bergantung pada pasar MICE dan aktivitas pemerintahan.
Dalam kondisi tersebut, hotel perlu ditopang oleh sumber permintaan lain yang lebih stabil. Pariwisata menjadi pilihan yang paling dekat karena wisatawan juga memanfaatkan layanan akomodasi, makanan, transportasi, dan belanja selama berkunjung.
Mukaromah menilai penguatan sektor wisata harus menjadi kerja bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Ia juga menekankan bahwa narasi positif di media massa dan media sosial penting untuk menjaga citra destinasi agar tetap menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang besar dan potensi itu perlu dikelola dengan serius. Jika destinasi terus dipromosikan dan aksesnya semakin baik, sektor perhotelan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah pengetatan belanja pemerintah.
Dalam ekosistem yang saling terhubung itu, hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga penggerak aktivitas ekonomi daerah. Karena itu, penguatan pariwisata dinilai menjadi salah satu cara paling relevan untuk menjaga keberlangsungan perhotelan saat pasar MICE menurun.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jateng.antaranews.com








