BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mencatat Jawa Barat dan sekitarnya diguncang 111 kejadian gempa bumi selama periode Maret. Dari jumlah itu, getaran terkuat mencapai magnitudo 5,4, sementara yang terlemah tercatat magnitudo 0,9.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan, sebagian besar gempa berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Data ini menunjukkan aktivitas kegempaan di wilayah Jabar masih didominasi gempa dangkal yang umumnya berkaitan dengan struktur geologi aktif di daratan maupun laut.
Rincian aktivitas gempa di Jawa Barat
BMKG mencatat 98 kejadian gempa berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Sementara itu, 13 kejadian lainnya berada pada kedalaman 60 hingga 300 kilometer.
Berdasarkan lokasi hiposenter, 67 gempa berpusat di laut dan 44 kejadian lainnya berpusat di darat. Dari seluruh gempa tersebut, lima kejadian tercatat dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Gempa yang paling dirasakan
Salah satu gempa yang paling menonjol terjadi dengan kekuatan 5,4 magnitudo dan berpusat di Kota Sukabumi. Guncangan itu terjadi pada 13 Maret dan dirasakan di Kabupaten Garut, Sukabumi, hingga Tasikmalaya.
Teguh menjelaskan, karakter gempa tersebut termasuk gempa dangkal. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” ujarnya.
Data gempa Jabar selama periode Maret
- Total kejadian gempa: 111 kali
- Magnitudo terbesar: 5,4
- Magnitudo terkecil: 0,9
- Gempa kedalaman kurang dari 60 kilometer: 98 kejadian
- Gempa kedalaman 60-300 kilometer: 13 kejadian
- Gempa berpusat di laut: 67 kejadian
- Gempa berpusat di darat: 44 kejadian
- Gempa yang dirasakan: 5 kejadian
Frekuensi gempa yang cukup tinggi menunjukkan Jawa Barat tetap menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas seismik yang aktif. Kondisi ini membuat pemantauan BMKG dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting, terutama di daerah yang dekat dengan jalur sesar aktif dan kawasan pesisir.









