Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Masa Baru di Desa Jatisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, memanfaatkan eceng gondok sebagai pembenah tanah alami untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Inovasi ini menjadi salah satu upaya petani setempat dalam memperbaiki kondisi tanah dengan cara yang lebih murah, mudah, dan ramah lingkungan.
Program tersebut dijalankan dengan pendampingan UPT Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan, POPT Pangan dan Hortikultura, serta tim Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kuripan.
Eceng gondok yang diolah ulang
Petugas POPT Perkebunan, Ika Ratmawati, menjelaskan bahwa eceng gondok selama ini memang dikenal sebagai gulma yang mengganggu perairan. Namun, tanaman itu justru menyimpan potensi besar karena mampu menyerap dan menahan nutrisi dari sisa pupuk yang terbawa air.
Kemampuan tersebut membuat eceng gondok layak dimanfaatkan kembali sebagai bahan pembenah tanah untuk membantu memulihkan kesuburan lahan pertanian. “Eceng gondok selama ini dikenal sebagai gulma yang merusak ekosistem perairan. Namun, di balik itu tanaman tersebut memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan nutrisi dari sisa pupuk yang terbawa air, sehingga sangat potensial dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki kesuburan tanah,” kata Ika dalam keterangannya di Probolinggo.
Bahan mudah didapat dan proses sederhana
Pembuatan pembenah tanah berbahan eceng gondok itu disebut tidak rumit dan tidak membutuhkan biaya besar. Petani cukup menyiapkan 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase, dan 10 liter air, lalu memfermentasikannya selama satu bulan.
Berikut komposisi bahan yang digunakan:
- 5 kilogram eceng gondok
- 1 kilogram kulit nanas
- 250 mililiter EM4
- 250 mililiter molase
- 10 liter air
Setelah proses fermentasi selesai, cairan pembenah tanah dapat digunakan dengan cara dikocor atau disiram ke tanah. Dosis pemakaian yang dianjurkan adalah perbandingan 1:10 liter air, sehingga petani bisa langsung menerapkannya di lahan.
Dorong pertanian mandiri dan ramah lingkungan
Ika menyebut kandungan nutrisi pada eceng gondok menjadi alasan utama bahan itu dapat dimanfaatkan untuk pembenah tanah. Tanaman air tersebut menyerap sisa pupuk di perairan dan menyimpan unsur hara yang kemudian bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan pertanian.
Pemanfaatan bahan alami ini juga dinilai membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pertanian yang lebih hemat input sekaligus tetap menjaga daya dukung tanah.
Petugas POPT Pangan dan Hortikultura, Panji Ramadhan, mengatakan pembenah tanah sebaiknya diaplikasikan saat pengolahan lahan atau sebelum masa tanam. Langkah itu dinilai penting untuk mendukung sistem pertanian yang mandiri dan ramah lingkungan.
Menjadi contoh bagi petani lain
Ketua Kelompok Tani Masa Baru, Karsan, menilai inovasi sederhana tersebut sangat bermanfaat bagi petani, terutama untuk memperbaiki kondisi lahan secara bertahap. Ia menegaskan pentingnya kemandirian petani dalam membuat pupuk organik dan pembenah tanah dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.
“Petani harus mandiri dalam membuat pupuk organik dan pembenah tanah. Kami akan terus belajar dan berupaya mengembalikan kesuburan lahan dengan cara yang lebih alami,” ujarnya.
Inovasi pemanfaatan eceng gondok di Probolinggo ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak petani beralih ke praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi menjaga produktivitas lahan agar tetap berkelanjutan di tengah kebutuhan pertanian yang terus berkembang.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatim.antaranews.com








