Agustus Jadi Puncak Kemarau di 70 Persen Jatim, BMKG Juanda Siapkan Antisipasi Kekeringan

BMKG Stasiun Juanda memprediksi sekitar 70 persen wilayah Jawa Timur akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus. Prediksi ini menjadi perhatian karena periode tersebut berpotensi memicu kekeringan di sejumlah titik serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menyebut puncak kemarau akan terjadi di hampir 70 persen wilayah Jatim. Ia menyampaikan hal itu di Surabaya dan menegaskan bahwa pemetaan wilayah terdampak akan dipakai untuk memperkuat langkah antisipasi.

Wilayah yang Masuk Fokus Pemantauan

BMKG Juanda menyiapkan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi dampak kekeringan saat puncak kemarau tiba. Langkah ini menargetkan wilayah yang diperkirakan berada pada fase kemarau paling kering agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Berikut langkah antisipasi yang disebut menjadi perhatian BMKG Juanda:

  1. Memetakan wilayah yang masuk puncak kemarau.
  2. Mengidentifikasi titik rawan kekeringan.
  3. Berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga kebencanaan.
  4. Memantau pergerakan angin di kawasan rawan kebakaran.

Taufiq menilai antisipasi perlu dilakukan lebih awal karena kondisi kemarau dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain. Karena itu, koordinasi lintas lembaga menjadi penting untuk menekan risiko gangguan akibat cuaca kering.

Potensi El Nino dan Dampaknya

BMKG Juanda juga memperkirakan ada fenomena El Nino saat puncak musim kemarau nanti. Namun, tingkat anomalinya belum bisa dipastikan karena pemantauan masih terus berjalan sampai pertengahan tahun.

Taufiq menjelaskan bahwa skala El Nino bisa berubah, mulai dari lemah, moderat, hingga kuat. El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang umumnya membuat curah hujan menurun.

Kondisi itu berpotensi memperpanjang masa kering di sejumlah wilayah. Dalam situasi seperti ini, sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan aktivitas masyarakat di daerah rentan biasanya menjadi bagian yang paling terdampak.

Risiko Kebakaran di Kawasan Pegunungan

Selain krisis air, BMKG Juanda juga mewaspadai potensi kebakaran di kawasan pegunungan Jawa Timur. Sejumlah titik seperti Gunung Bromo dan Gunung Arjuno pernah mengalami kebakaran hutan pada musim kemarau beberapa waktu lalu.

Pengawasan diarahkan pada arah dan kecepatan angin karena faktor itu berpengaruh terhadap penyebaran api. Pemantauan cuaca dinilai penting agar petugas bisa membaca arah pergerakan potensi kebakaran lebih cepat.

Dalam konteks mitigasi, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah menjadi bagian penting. Koordinasi lintas instansi diharapkan bisa mencegah kejadian serupa terulang saat kemarau mencapai fase terpanas.

BMKG Juanda menilai kesiapsiagaan publik juga penting, terutama di wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan dan kebakaran. Informasi cuaca, kondisi angin, dan perkembangan musim kemarau akan terus menjadi acuan untuk menjaga langkah antisipasi tetap tepat sasaran.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button