Harga biji plastik di Jawa Tengah melonjak tajam setelah memanasnya konflik di Timur Tengah dan gangguan suplai minyak yang menyertainya. Kenaikan itu langsung menekan industri plastik karena ongkos produksi naik cepat, sementara permintaan pasar belum pulih sepenuhnya.
Ketua Apindo Jawa Tengah Frans Kongi menyebut harga biji plastik sudah naik 100 persen. Ia menilai lonjakan tersebut membuat produksi di daerah itu merosot karena pelaku usaha sulit menahan beban bahan baku yang mahal.
Dampak ke industri plastik dan garmen
Kenaikan harga tidak hanya dirasakan pabrik plastik, tetapi juga rantai industri turunannya. Frans mengatakan poliester juga ikut naik 100 persen sehingga sektor garmen yang memakai bahan itu berpotensi ikut terdampak.
Ia menambahkan, daya beli masyarakat sedang menurun pada saat biaya produksi justru meningkat. Kondisi ini membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga jual tanpa risiko kehilangan pasar.
Keluhan pengusaha mulai muncul
Sejumlah pengusaha di Jawa Tengah disebut mulai mengeluhkan lonjakan harga bahan baku plastik. Beberapa kontrak produksi bahkan sudah terlanjur disepakati sebelum harga naik, sehingga pedagang dan produsen menanggung selisih biaya yang besar.
Frans mencontohkan ada pabrik yang sudah mengikat kontrak produksi dalam jumlah banyak, tetapi harga bahan baku tiba-tiba melonjak saat proses berjalan. Situasi itu membuat kerugian sulit dihindari karena harga jual tidak lagi sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
Faktor biaya lain ikut menekan
Selain bahan baku utama, pelaku industri juga waspada terhadap kenaikan biaya logistik. Frans menyebut biaya transportasi dapat ikut terdorong jika harga bahan bakar untuk industri benar-benar naik seperti yang dikhawatirkan pelaku usaha.
Jika biaya pengiriman naik, maka tekanan harga akan berlapis dari bahan baku, energi, hingga distribusi. Dalam situasi seperti ini, produsen kecil dan menengah biasanya menjadi pihak paling rentan karena ruang modal mereka lebih sempit.
Data kenaikan dari pedagang pasar
Tekanan harga plastik juga sudah dirasakan pedagang pasar di tingkat hilir. DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia atau IKAPPI mencatat harga plastik di pasar melonjak hingga 50 persen dari kondisi normal.
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengatakan kenaikan berlangsung bertahap sejak akhir Februari. Ia menyebut harga yang semula berada di kisaran Rp 10.000 terus naik sedikit demi sedikit hingga mencapai proyeksi tertinggi sekitar 50 persen.
Rangkuman faktor yang mendorong kenaikan harga plastik
- Memanasnya konflik di Timur Tengah.
- Gangguan pada suplai minyak dan jalur distribusi.
- Harga biji plastik naik 100 persen.
- Harga poliester juga naik 100 persen.
- Biaya logistik dan transportasi berpotensi ikut meningkat.
Apindo Jawa Tengah berharap pemerintah memberi keringanan bagi industri yang terpukul, termasuk lewat insentif pajak. Frans juga meminta pemerintah terus mendorong diplomasi agar suplai minyak tetap lancar dan harga bahan baku tidak semakin sulit dijangkau oleh pelaku usaha.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: regional.kompas.com








