Harga Plastik Naik 70 Persen, Pedagang Jatim Putar Otak Jual Pentol Pakai Lidi

Harga plastik yang terus naik di Jawa Timur membuat pedagang kecil harus menyesuaikan cara berjualan agar biaya tidak makin tertekan. Sejumlah penjual memilih memangkas fasilitas, mengganti bahan kemasan, hingga menurunkan margin keuntungan agar usaha tetap berjalan.

Di berbeda daerah, dampaknya terasa langsung pada pedagang plastik, penjual pentol, dan pelaku usaha makanan kaki lima. Kenaikan harga itu disebut sudah berlangsung sejak pertengahan Maret dan dalam beberapa pekan terakhir mencapai 70 persen atau lebih.

Banyuwangi: pembeli tak lagi selalu dapat kresek gratis

Di Banyuwangi, lonjakan harga membuat penjual plastik lebih selektif dalam membagikan kantong kresek kepada pelanggan. Steven Wijaya, pemilik toko plastik kemasan, mengatakan ia tidak berani menambah stok dalam jumlah besar karena harga barang kerap berubah.

“Sekarang tidak berani ambil banyak barang. Takut harga masih naik turun, jadi hanya beli kalau ada pesanan saja,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Ia menyebut harga kemasan plastik mulai naik sejak pertengahan Maret dan kenaikannya bergerak dari sekitar 30 persen hingga kini menembus 70 persen. Kondisi itu membuat kebijakan toko ikut berubah karena setiap lembar plastik memiliki beban biaya yang lebih tinggi.

“Sekarang kalau belanja sedikit, tidak saya kasih kresek,” katanya.

Pamekasan: pedagang pentol kembali ke lidi

Dampak paling terlihat juga muncul di sektor kuliner kaki lima, termasuk penjual pentol di Pamekasan. Ismail, pedagang pentol setempat, memilih kembali memakai lidi untuk menekan pemakaian plastik yang kini lebih mahal.

“Sudah lama saya tidak pakai lidi, baru-baru ini setelah plastik naik jadi bawa lagi,” ujar Ismail, dikutip dari Kompas.com.

Untuk pembeli yang makan di tempat, ia menawarkan dua pilihan, memakai lidi atau plastik. Pilihan itu membuat pembeli ikut terlibat dalam penyesuaian biaya yang kini ditanggung pedagang.

“Kalau pembeli mau makan di sini saya tawarkan dulu mau pakai lidi apa plastik. Syukur masih banyak yang mau,” katanya.

Cara pedagang bertahan di tengah harga plastik naik

Kondisi di lapangan menunjukkan pedagang kecil tidak punya banyak ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Karena itu, mereka memakai sejumlah langkah praktis agar usaha tetap jalan tanpa menaikkan harga jual secara agresif.

  1. Mengurangi pemberian kantong plastik gratis.
  2. Membeli stok secukupnya sesuai pesanan.
  3. Mengganti kemasan dengan bahan yang lebih murah, seperti lidi.
  4. Menekan keuntungan agar harga ke pembeli tetap terjangkau.

Pilihan itu menunjukkan bahwa lonjakan harga plastik tidak hanya memengaruhi produsen dan distributor, tetapi juga alur transaksi harian di pasar tradisional dan gerobak makanan. Bagi pedagang kecil, efisiensi kini menjadi cara utama untuk bertahan di tengah biaya operasional yang naik cepat.

Dari kresek ke lidi, pola lama muncul lagi

Pergantian dari plastik ke lidi juga memperlihatkan pola lama yang kembali muncul di lapangan. Menurut Ismail, pedagang pentol pada masa lalu memang banyak memakai lidi, lalu perlahan beralih ke plastik karena dinilai lebih praktis.

Namun kenaikan harga membuat sebagian pedagang mempertimbangkan ulang kebiasaan itu karena selisih biaya mulai terasa. Situasi ini mendorong pembeli dan pedagang beradaptasi bersama, terutama pada usaha makanan yang volume transaksinya tinggi tetapi margin labanya tipis.

Di sisi lain, pedagang plastik seperti Steven harus menghadapi kondisi stok yang tidak stabil dan permintaan yang berubah-ubah. Dengan harga yang terus bergerak, keputusan membeli dalam jumlah besar justru berisiko menambah beban usaha jika harga pasar kembali turun atau naik lagi dalam waktu singkat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: surabaya.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button