Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Barat memperkuat tiga agenda utama dalam sektor jasa keuangan, yakni edukasi keuangan, perlindungan konsumen, dan pengembangan ekonomi daerah. Langkah ini dijalankan melalui serangkaian program strategis sepanjang triwulan pertama yang diarahkan untuk memperluas akses masyarakat sekaligus menjaga keamanan transaksi keuangan.
Kepala OJK Jawa Barat Darwisman menyampaikan komitmen tersebut dalam media update triwulan pertama di Bandung. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu semakin cerdas saat memanfaatkan produk dan layanan keuangan, sekaligus mendapatkan perlindungan yang memadai dari berbagai risiko.
Edukasi Keuangan Diperluas
OJK Jawa Barat mencatat 640 kegiatan edukasi keuangan hingga Maret dengan total 1,27 juta peserta. Kegiatan itu dilakukan melalui edukasi langsung, kanal digital, dan kolaborasi bersama pelaku jasa keuangan.
Pola ini menunjukkan pendekatan literasi yang lebih luas dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. OJK juga mendorong edukasi agar menjangkau kelompok yang lebih beragam, mulai dari pelajar, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.
Darwisman mengatakan edukasi menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak hanya mengenal produk keuangan, tetapi juga memahami manfaat dan risikonya. Ia menilai literasi yang kuat dapat mendorong masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih bijak.
Perlindungan Konsumen Diperketat
Di sisi perlindungan, OJK Jawa Barat memperkuat layanan pengaduan dan penanganan dugaan pelanggaran di sektor jasa keuangan. Sepanjang Januari, kantor OJK di Jawa Barat menerima 67 laporan pengaduan masyarakat.
Masalah yang paling sering muncul berkaitan dengan restrukturisasi atau relaksasi kredit dan pembiayaan, agunan atau jaminan, keberatan lelang, hingga fraud eksternal. Temuan ini menunjukkan masih adanya kebutuhan besar terhadap layanan pengawasan dan penyelesaian sengketa yang cepat.
OJK juga bekerja bersama Satgas PASTI Daerah untuk menekan aktivitas keuangan ilegal. Fokus pengawasan diarahkan pada investasi bodong dan pinjaman online ilegal yang kerap menyasar masyarakat dengan iming-iming cepat dan mudah.
Darwisman menegaskan bahwa perlindungan konsumen menjadi prioritas utama. Menurut dia, perlindungan yang kuat akan menciptakan rasa aman bagi masyarakat saat bertransaksi di industri jasa keuangan.
| Fokus Perlindungan | Bentuk Penanganan |
|---|---|
| Pengaduan konsumen | Penerimaan dan tindak lanjut laporan masyarakat |
| Sengketa kredit/pembiayaan | Penanganan restrukturisasi, relaksasi, dan agunan |
| Kejahatan keuangan | Pencegahan investasi bodong dan pinjol ilegal |
| Fraud eksternal | Penguatan pengawasan dan edukasi risiko |
TPAKD Dorong Ekonomi Daerah
OJK Jawa Barat juga memperkuat sinergi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau TPAKD untuk mendorong ekonomi lokal berbasis potensi wilayah. Program yang dijalankan mencakup Asuransi Mikro untuk Petani, Satu Rekening Satu Pelajar atau KEJAR, serta GEULIS Jabar untuk inklusi saham.
Program-program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses keuangan bagi kelompok masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau layanan formal. Dengan akses yang lebih merata, OJK berharap aktivitas ekonomi daerah dapat tumbuh lebih inklusif.
Fokus Agribisnis Jadi Penggerak
Dalam peta pengembangan ekonomi daerah, OJK Jawa Barat dan TPAKD memberi perhatian besar pada sektor agribisnis. Fokus diarahkan ke komoditas unggulan seperti domba, sapi perah, ayam petelur, ikan air tawar, pisang cavendish, nanas, kopi, dan kakao.
Pendekatan ini dinilai penting karena agribisnis memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi di pedesaan. Strategi tersebut juga ditujukan untuk memperkuat pembiayaan produktif, ketahanan pangan, dan hilirisasi agar nilai tambah ekonomi tetap berada di daerah.
Prioritas Program OJK Jawa Barat
- Meningkatkan literasi dan edukasi keuangan secara masif.
- Memperkuat perlindungan konsumen melalui layanan pengaduan dan pengawasan.
- Menekan aktivitas keuangan ilegal bersama Satgas PASTI Daerah.
- Mendorong akses keuangan daerah lewat TPAKD dan program inklusi.
- Mengembangkan agribisnis sebagai penggerak ekonomi lokal.
Darwisman menyebut pengembangan ekonomi daerah berbasis agribisnis sebagai katalis pertumbuhan Jawa Barat. Ia menilai sinergi lintas sektor dibutuhkan agar potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi yang inklusif dan tahan terhadap tekanan global.
OJK Jawa Barat pun menegaskan posisinya sebagai mitra masyarakat dalam meningkatkan literasi, menjaga perlindungan konsumen, dan memperkuat ekonomi daerah. Melalui kombinasi edukasi, pengawasan, dan pengembangan akses keuangan, lembaga ini menempatkan Jawa Barat pada jalur pertumbuhan yang lebih resilien dan berkelanjutan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: radarjabar.disway.id








