Khofifah Ajak Muslimat NU Rawat Gotong Royong, Tradisi yang Menjaga Persaudaraan

Khofifah Indar Parawansa mengajak kader Muslimat Nahdlatul Ulama terus menjaga tradisi kegotongroyongan sebagai bagian dari nilai dasar organisasi perempuan Islam itu. Pesan ini ia sampaikan di Yogyakarta saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-80 Muslimat NU yang mengusung tema nasional merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban.

Khofifah menekankan bahwa tradisi kesantunan, persaudaraan, dan saling membantu perlu dirawat di tengah perubahan sosial yang cepat. Ia menyebut tradisi itu sejalan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menekankan moderasi, toleransi, dan keadilan.

Merawat tradisi sebagai identitas organisasi

Menurut Khofifah, Muslimat NU perlu terus menjaga warisan nilai yang selama ini menjadi penggerak kehidupan sosial di lingkungan umat. Ia menyebut kegotongroyongan bukan sekadar budaya sehari-hari, tetapi juga bagian dari cara membangun solidaritas dan ketahanan sosial.

Pernyataan itu muncul dalam rangkaian Harlah ke-80 Muslimat NU yang dijadwalkan berjalan secara nasional mulai 29 Maret. Tema besar tersebut, kata Khofifah, menjadi pengingat agar kader tetap memelihara tradisi kebaikan di tengah tantangan zaman.

Kemandirian organisasi perempuan NU

Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan kemandirian Muslimat NU sebagai organisasi kemasyarakatan perempuan Islam sosial-keagamaan. Ia menyebut jumlah anggota Muslimat NU kini sekitar 36 juta orang dan tetap aktif dalam berbagai layanan sosial.

Layanan itu mencakup pendidikan di PAUD dan TK, layanan kesehatan, layanan ekonomi, serta dakwah. Berikut ruang pengabdian yang disebut Khofifah sebagai bagian dari kekuatan organisasi:

  1. Pendidikan anak usia dini melalui PAUD dan TK.
  2. Pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
  3. Program ekonomi yang mendukung kemandirian anggota.
  4. Dakwah yang menebarkan nilai moderasi dan persaudaraan.

Meneduhkan peradaban di tengah kekerasan sosial

Khofifah mengatakan tema meneduhkan peradaban sudah dibahas sejak sekitar dua tahun lalu. Pembahasan itu menyentuh berbagai lapisan, mulai dari rumah tangga, komunitas, wilayah lokal dan regional, hingga tingkat nasional dan global.

Ia menyoroti pentingnya upaya bersama untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, anak, dan masyarakat. Menurut dia, Muslimat NU perlu ikut membangun suasana yang teduh, sejuk, dan damai melalui pendekatan sosial dan keagamaan yang inklusif.

Nilai yang ingin dijaga Muslimat NU

Khofifah menilai tiga tema besar Harlah ke-80 itu saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Merawat tradisi menjaga akar nilai, menguatkan kemandirian memperluas daya tahan organisasi, dan meneduhkan peradaban mendorong kontribusi Muslimat NU agar tetap relevan di tengah perubahan sosial.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: jatim.antaranews.com
Terkait