Dedi Mulyadi Pastikan 40 Ribu Rumah Direnovasi, Gentengisasi Dongkrak UMKM Jabar

Kabar baik datang bagi warga Jawa Barat karena program gentengisasi mulai disiapkan untuk memperbaiki rumah tidak layak huni dalam jumlah besar. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan sedikitnya 40 ribu rumah akan direnovasi dengan memakai genteng tanah liat produksi UMKM lokal.

Program ini dijalankan bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk mengganti atap rumah berbahan seng atau asbes agar hunian warga menjadi lebih layak. Di saat yang sama, kebijakan ini juga dirancang untuk mengangkat kembali aktivitas ekonomi perajin genteng di daerah sentra produksi.

Fokus Renovasi Rumah dan Dorongan Ekonomi Lokal

Dedi Mulyadi menyebut program gentengisasi bukan hanya soal fisik rumah, tetapi juga soal pemerataan manfaat ekonomi. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa pembangunan rumah harus berjalan seiring dengan hidupnya kembali usaha masyarakat kecil.

“Biar genteng Plered enggak lesu lagi, nanti orang-orang pada kembali kerja, gentengnya produksi, rumah di Jabar terbangun,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia juga memastikan target perbaikan rumah tidak sedikit. “Minimal rumah tidak layak huninya 40.000, nanti menggunakan genteng Plered dan genteng Majalengka namanya Jatiwangi,” kata Dedi Mulyadi.

Sentra Produksi Genteng Diperluas

Dalam pertemuan pada 23 Maret 2026, Dedi Mulyadi mengusulkan agar pasokan genteng tidak hanya bergantung pada Jatiwangi, Majalengka. Ia mendorong keterlibatan sentra Plered, Purwakarta, supaya manfaat program bisa dirasakan oleh lebih banyak pelaku UMKM di Jawa Barat.

Usulan itu dinilai penting karena kebutuhan genteng dalam jumlah besar membutuhkan rantai pasok yang kuat dan merata. Dengan melibatkan lebih banyak sentra produksi, peluang kerja bagi perajin, pengrajin, dan pekerja pendukung juga ikut terbuka.

Peninjauan UMKM Plered

Pada 14 April 2026, Dedi Mulyadi terlihat mendampingi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait saat meninjau kesiapan UMKM di Plered. Kunjungan itu menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan pusat mulai menyelaraskan langkah untuk memastikan program berjalan di lapangan.

Dalam unggahan Instagram pribadinya, Dedi sempat menyelipkan canda saat membahas manfaat program bagi pelaku usaha setempat. “Ini dia, tumpukan sate yang dimakan oleh Menteri PKP. Jadi hari ini Menteri PKP sudah menghabiskan 20 tusuk sate maranggi Plered. Sekarang lagi bakar lagi, yang pakai lemak 10 lagi dalam rangka apa? Dalam rangka merayakan lakunya genteng Plered,” ucap Dedi Mulyadi.

Menteri Ara kemudian menanggapi singkat dengan senyum, “UMKM.”

Dampak yang Ditargetkan dari Program Gentengisasi

Program gentengisasi diposisikan sebagai kebijakan yang menyatukan dua kebutuhan sekaligus, yakni perbaikan rumah warga dan penguatan ekonomi daerah. Skema ini juga sejalan dengan penggunaan material lokal agar perputaran uang tetap berada di Jawa Barat.

Berikut sasaran utama yang ingin dicapai dari program tersebut:

  1. Merenovasi rumah tidak layak huni agar lebih aman dan layak ditempati.
  2. Meningkatkan permintaan genteng tanah liat produksi UMKM lokal.
  3. Menggerakkan kembali aktivitas kerja di sentra-sentra produksi genteng.
  4. Memperluas sebaran manfaat ekonomi hingga ke berbagai daerah di Jawa Barat.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa program ini harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. “Pokoknya rumah terbangun, genteng pun makmur,” tegasnya.

Pada momen peninjauan itu, suasana juga sempat cair ketika Dedi melontarkan candaan soal pelaku usaha yang ikut merasakan dampak program. Ia menyebut tukang sate juga ikut kebagian rezeki, namun menegaskan hal itu disampaikan dalam suasana santai.

Program gentengisasi kini menjadi salah satu agenda yang disorot karena menggabungkan pembangunan perumahan dan pemberdayaan UMKM dalam satu langkah kebijakan. Dengan target 40 ribu rumah dan keterlibatan sentra genteng lokal, Jawa Barat menempatkan sektor hunian sebagai penggerak baru ekonomi rakyat.

Source: www.tvonenews.com
Terkait