Data pembaruan pendataan keluarga menunjukkan angka kelahiran remaja di Jawa Tengah masih menjadi perhatian serius. Dari setiap 1.000 remaja putri usia 15–19 tahun, sekitar 20 orang melahirkan dalam setahun, dengan angka age-specific fertility rate (ASFR) mencapai 20,4.
Kondisi itu dinilai berkaitan erat dengan tingginya perkawinan usia anak. Dinas Perempuan dan Anak serta Keluarga Berencana Jawa Tengah menilai tren tersebut berisiko mendorong kelahiran bayi stunting karena remaja belum siap secara fisik maupun psikologis untuk hamil dan melahirkan.
Angka kelahiran remaja masih tinggi di sejumlah daerah
Kepala DP3AP2KB Jawa Tengah, Ema Rachmawati, menyebut ada kecenderungan kenaikan angka kelahiran dari ibu remaja. Ia menilai fenomena nikah muda dan pengaruh media sosial ikut memicu pola tersebut.
“Ya itu memang kayaknya agak meningkat ya. Ini ya mungkin tadi ada yang dengan dampak-dampak ikut-ikutan yang perlu kita waspadai,” ujar Ema saat dikonfirmasi, seperti dikutip dari sumber referensi.
Data pemutakhiran pendataan keluarga mencatat sejumlah daerah memiliki angka kelahiran remaja lebih tinggi dari rata-rata provinsi. Berikut daftar wilayah dengan angka tertinggi dan terendah yang tercatat dalam data tersebut.
| Wilayah | Angka kelahiran remaja per 1.000 remaja perempuan |
|---|---|
| Wonosobo | 28,3 |
| Purbalingga | 27,8 |
| Blora | 27,6 |
| Kota Solo | 9,1 |
| Kota Semarang | 9,3 |
| Kota Pekalongan | 10,2 |
| Kota Magelang | 10,2 |
Angka di Wonosobo, Purbalingga, dan Blora menunjukkan remaja di wilayah itu lebih banyak mengalami kehamilan dibanding rata-rata Jawa Tengah. Sementara tiga kota besar di provinsi ini justru mencatat angka lebih rendah.
Tekanan media sosial dan nikah muda ikut jadi sorotan
Ema menilai kampanye menikah muda yang marak di media sosial ikut memengaruhi cara pandang sebagian remaja. Ia menyebut tren itu perlu diwaspadai karena dapat membentuk normalisasi terhadap perkawinan usia anak.
“Banyak gen Z dengan kampanye menikah muda. Ini juga harus tantangan kita loh ini media sosial kan kemarin ada ya yang cukup gencar mengkampanyekan kawin muda. Ini yang harus kita cegah bagaimana supaya anak-anak tidak menikah muda,” tuturnya.
Pemerintah daerah menilai edukasi ke remaja dan orang tua perlu diperkuat agar risiko pernikahan dini lebih dipahami. Tanpa pencegahan yang sistematis, kehamilan pada usia anak berpotensi mengganggu kesehatan ibu dan bayi, sekaligus memutus akses pendidikan.
Dampak yang dikhawatirkan pada kesehatan dan pendidikan
Menurut Ema, pernikahan usia anak tidak hanya meningkatkan risiko stunting, tetapi juga mendorong anak kehilangan hak untuk menempuh pendidikan. Ia menekankan bahwa remaja yang masih sekolah semestinya tidak terbawa arus untuk menikah lebih cepat.
“Tren seperti itu juga harus dicegah. Berikutnya jangan sampai masih sekolah kok mau menikah gitu. Ini yang ini yang tantangan yang harus kita hadapi dan harus kita terus sosialisasikan untuk bagaimana mencegah pernikahan dini,” ungkapnya.
Kepala BKKBN Jawa Tengah, Rusman Effendi, juga menyebut kelahiran dari remaja perempuan masih menjadi tantangan utama yang perlu ditekan. Ia menilai pencegahan kehamilan tidak diinginkan harus dilakukan lewat edukasi yang lebih masif dan konsisten.
“Yang menjadi tantangan itu tadi salah satunya yang betul adalah karena masih adanya kelahiran anak remaja,” ujarnya.
Di tingkat kebijakan, data ini memperlihatkan perlunya kerja lintas sektor antara sekolah, keluarga, layanan kesehatan, dan pemerintah daerah. Penguatan komunikasi soal kesehatan reproduksi, bahaya perkawinan anak, dan perlindungan hak pendidikan menjadi penting agar angka kelahiran remaja tidak terus bertahan di level tinggi.
Source: regional.kompas.com