Penutupan Jalan Gombel Lama pada hari pertama langsung mengubah pola perjalanan banyak pengendara di Semarang. Sebagian memilih berangkat lebih pagi, sementara sebagian lain mengambil jalur memutar agar terhindar dari kepadatan.
Di lokasi, Jalan Gombel Lama terlihat ditutup rapat dengan road barrier. Petugas gabungan juga disiagakan untuk membantu mengarahkan pengendara yang belum mengetahui skema pengalihan arus.
Arus dialihkan ke Jalan Gombel Baru
Penutupan dilakukan karena dimulainya preservasi Jalan Gombel Lama sepanjang 1,27 kilometer. Selama pengerjaan berlangsung, arus lalu lintas dialihkan ke Jalan Gombel Baru yang kini difungsikan dua arah.
Kondisi itu membuat pengguna jalan harus menyesuaikan ritme perjalanan sejak pagi. Tidak sedikit pengendara yang memilih menambah waktu tempuh agar perjalanan tetap lancar.
Salah satu pengguna jalan, Utomo, memilih jalur memutar sejak awal untuk mengantisipasi penutupan. Ia yang berasal dari Kabupaten Semarang melewati Gunungpati, lalu Mijen, hingga TPA Jatibarang.
“Lewatnya Gunungpati, terus Mijen, tembus ke TPA Jatibarang. Kalau ada kerjaan di Semarang Bawah tetap lewat Gombel, tetapi harus hati-hati dan sabar,” ujarnya.
Utomo juga menyiapkan jalur lain jika waktu perjalanan sangat mepet. “Kalau buru-buru, jalan pintasnya muter Tembalang, tembus Pasar Kambing, Peterongan, ke Sriwijaya,” katanya.
Lalu lintas masih menyesuaikan
Pengguna jalan lain, Sutrisno, menilai situasi lalu lintas masih dalam tahap penyesuaian. Ia melintas sekitar pukul 09.30 dan menyebut arus kendaraan masih relatif lancar meski tetap ramai.
“Masih ramai tetapi belum sampai macet parah. Namun siang tadi mulai padat merayap dari arah Gombel Baru. Kemungkinan sore lebih padat lagi saat jam pulang kerja,” ujarnya.
Sutrisno menilai perbaikan yang berlangsung sekitar tujuh bulan itu perlu dipahami sebagai proses yang berdampak pada pengguna jalan. Menurut dia, pekerjaan tersebut pada akhirnya ditujukan untuk kepentingan publik dan kenyamanan jangka panjang.
Namun, ia menekankan pentingnya kesiapan jalur alternatif. Beberapa rute seperti kawasan Jangli disebut memiliki kondisi yang curam dan bergelombang, sehingga perlu dipastikan aman sebelum dipakai sebagai pengalihan.
“Kalau alternatifnya malah bikin susah ya percuma. Harus dipastikan aman juga,” tegasnya.
Butuh petugas dan sosialisasi lebih jelas
Selain kondisi jalur, Sutrisno juga menyoroti perlunya petugas yang lebih banyak di lapangan. Ia menilai sistem dua arah di Jalan Gombel Baru masih membingungkan bagi sebagian pengguna jalan, terutama mereka yang belum terbiasa melintas di kawasan itu.
“Petugas harus banyak karena Jalan Gombel Baru jadi dua arah. Bagi masyarakat luar, mereka tahunya jalan itu satu arah,” ujarnya.
Dari sisi proyek, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Provinsi Jawa Tengah dari Balai Besar Penanganan Jalan Nasional Jateng-DIY, Alfan Noor Rizal, sebelumnya menyampaikan bahwa perbaikan Jalan Gombel Lama menelan anggaran Rp 17,5 miliar.
Ia menjelaskan pengerjaan harus dilakukan menyeluruh, terutama pada area longsoran, sehingga jalur lama ditutup total. “Di Gombel Lama nantinya kami tutup total. Kami sudah konsultasi dengan Satlantas Polresta Semarang,” kata Alfan.
Untuk kendaraan berat, Alfan mengimbau agar pengguna jalan memanfaatkan tol selama proses perbaikan berlangsung. “Untuk kendaraan berat kami imbau melalui tol, masuk Tol Banyumanik keluar di Tol Jatingaleh atau ke Jangli. Tetapi masih berupa imbauan,” ujarnya.
Source: www.rmoljawatengah.id






