Sekolah Maung Dedi Mulyadi Tuai Apresiasi, Dosen UPI Soroti Arah Baru Pendidikan Jabar

Gagasan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya menuai banyak apresiasi, termasuk dari kalangan akademisi. Salah satu yang memberi tanggapan positif adalah dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Isma Widiaty, yang menilai program Sekolah Manusia Unggul atau Sekolah Maung layak mendapat dukungan luas.

Menurut Isma, terobosan ini menunjukkan keberpihakan pemerintah pada siswa dengan potensi kecerdasan di atas rata-rata. Ia menyebut konsep tersebut sebagai pengembangan dari Sekolah Garuda Transformatif dan menilai langkah itu sebagai bentuk fasilitasi yang jelas dari pemerintah terhadap peserta didik di Jawa Barat.

Dukungan akademisi terhadap Sekolah Maung

Isma menilai program yang diinisiasi Dedi Mulyadi patut diapresiasi tidak hanya oleh akademisi, tetapi juga perguruan tinggi dan komunitas alumni sekolah. Ia menilai kebijakan itu memberi sinyal bahwa pemerintah provinsi ingin menyiapkan ruang belajar yang lebih sesuai bagi siswa yang memiliki kemampuan akademik menonjol.

Dalam keterangannya, Isma menyebut konsep Sekolah Maung sebagai “terobosan untuk memfasilitasi anak-anak dengan potensi kecerdasan di atas rata-rata”. Pernyataan itu memperlihatkan harapan agar kebijakan baru ini tidak berhenti pada wacana, tetapi benar-benar masuk ke tahap pelaksanaan yang terukur.

Harapan agar budaya Sunda tetap terjaga

Di balik dukungan tersebut, Isma juga memberi catatan penting soal identitas pendidikan di Jawa Barat. Ia berharap pelaksanaan Sekolah Maung tetap mengaitkan unsur keunikan daerah dan tidak menghilangkan budaya Sunda yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan di wilayah itu.

Pandangan itu ia sampaikan dalam Rapat Kerja Persiapan Penyelenggaraan Sekolah Maung di Kantor Disdik Jabar, Kota Bandung. Pada forum tersebut, Isma juga hadir mewakili Komite SMAN 3 Bandung dan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembaruan kebijakan dan karakter lokal.

Penerimaan siswa, guru, dan kurikulum jadi perhatian

Isma menilai pemerintah perlu mengawal penerapan Sekolah Maung secara serius, terutama pada sistem penerimaan siswa. Menurutnya, mekanisme seleksi yang baik akan menentukan apakah program ini benar-benar tepat sasaran dan berjalan sesuai tujuan awalnya.

Selain penerimaan siswa, ia juga menyoroti kesiapan sumber daya manusia guru, kurikulum, dan sarana-prasarana. Ketiga unsur itu dianggap menjadi fondasi agar Sekolah Maung tidak hanya dikenal sebagai gagasan besar, tetapi juga mampu hadir sebagai model pendidikan yang efektif di lapangan.

Dukungan terhadap program ini juga semakin kuat karena dinilai membawa semangat pembaruan dalam dunia pendidikan Jawa Barat. Isma bahkan menyatakan harapan agar program tersebut bisa segera terealisasi pada 2026, seiring besarnya perhatian publik terhadap inisiatif Dedi Mulyadi.

Mewakili UPI, Prof. Ahmad Yani juga disebut menyampaikan dukungan serupa terhadap Sekolah Maung. Kehadiran respons positif dari kalangan kampus ini memperkuat posisi program tersebut sebagai salah satu agenda pendidikan yang paling banyak diperbincangkan di Jawa Barat.

Source: www.tvonenews.com
Exit mobile version