Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Philip Nathan Taula, dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka peluang kerja sama yang langsung menyentuh kebutuhan strategis daerah. Dua isu yang paling menonjol dalam pertemuan di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, adalah pengembangan energi baru terbarukan dan sapi perah.
Pertemuan itu menandai langkah awal penguatan hubungan bilateral di tingkat daerah. Sejumlah sektor lain juga masuk pembahasan, mulai dari pertanian, peternakan, pendidikan, hingga kebudayaan.
Energi hijau jadi pintu kerja sama
Selandia Baru menawarkan pengalaman yang dinilai relevan untuk Jawa Tengah, terutama dalam pengelolaan energi panas bumi. Philip Taula menyebut sekitar 30 persen kebutuhan listrik di negaranya sudah dipenuhi dari energi panas bumi.
Jawa Tengah sendiri sedang mendorong transisi menuju ekonomi hijau. Pemerintah provinsi menargetkan pengembangan energi baru terbarukan dan industri ramah lingkungan sebagai bagian dari arah pembangunan daerah.
Sapi perah dan penguatan peternakan
Sektor peternakan menjadi fokus lain yang mendapat perhatian besar. Selandia Baru menawarkan dukungan untuk pengembangan sapi perah, termasuk pembahasan yang sudah dilakukan bersama Kementerian Pertanian di Jakarta.
Ruang kerja sama itu mencakup breeding genetik dan peningkatan kapasitas produksi susu nasional. Ahmad Luthfi menilai pengalaman Selandia Baru sangat layak diadopsi, terutama karena sektor peternakan negara itu dikenal kuat.
Luthfi juga menyoroti rasio ternak di Selandia Baru yang mencapai 28 juta ekor, jauh melampaui jumlah penduduknya yang sekitar 5 juta jiwa. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan besarnya potensi sektor peternakan yang bisa menjadi pembanding bagi penguatan program di Indonesia.
Ia menegaskan, penguatan peternakan sangat relevan dengan kebutuhan nasional, termasuk penyediaan susu dan daging. Karena itu, kerja sama di bidang ini dinilai tidak hanya penting untuk Jawa Tengah, tetapi juga untuk dukungan terhadap kebutuhan pangan nasional.
Pendidikan dan peluang investasi lain
Selain energi dan peternakan, jalur kerja sama juga terbuka di bidang pendidikan. Ratusan warga Indonesia disebut mengikuti kursus jangka pendek maupun panjang di Selandia Baru setiap tahun.
Kerja sama pendidikan yang sudah terjalin dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Diponegoro, juga diharapkan bisa diperluas. Pemerintah provinsi bahkan membuka peluang lebih besar bagi pelajar dan mahasiswa Jawa Tengah untuk menempuh pendidikan di Selandia Baru.
Di luar itu, peluang investasi pada sektor perikanan ikut dibahas. Jawa Tengah dinilai memiliki banyak kampung nelayan yang belum tergarap optimal oleh investor asing, termasuk dari Selandia Baru.
Ahmad Luthfi berharap pembicaraan ini tidak berhenti pada penjajakan. Ia ingin kerja sama berlanjut ke studi komparatif dan segera diwujudkan dalam program konkret lintas sektor.
Source: www.rmoljawatengah.id