Gim Suyati akhirnya kembali ke Desa Adinuso, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, setelah terpisah dari keluarga selama 31 tahun di Malaysia. Kepulangan itu terjadi berkat sahabatnya, Kamarudin bin Harun, yang datang langsung dari Malaysia dengan biaya pribadi untuk mencari keluarga Gim di Jawa Tengah.
Perjalanan pulang Gim tidak berlangsung mulus. Setelah keluarga ditemukan pada 14 April 2026, putra keduanya, Anto, berangkat ke Malaysia pada 21 April 2026 untuk menjemput sang ibu, tetapi proses pemulangan tersendat oleh urusan administrasi.
Pencarian yang dimulai dari satu kunjungan
Kamarudin datang sendiri ke Desa Adinuso meski kondisi kesehatannya tidak begitu baik. Menurut Anto, kedatangan pria asal Malaysia itu menjadi titik balik setelah bertahun-tahun keluarga tidak memiliki petunjuk apa pun tentang keberadaan Gim.
Anto mengaku bantuan itu sangat berarti karena keluarga selama ini hanya bisa berharap dan berdoa. Upaya mencari jejak sang ibu di Malaysia juga pernah dilakukan, tetapi tidak membuahkan hasil.
Terhalang dokumen dan status kewarganegaraan
Hambatan terbesar muncul karena status kewarganegaraan Gim diragukan. Hal itu berkaitan dengan fakta bahwa ia pergi ke Malaysia sebelum era e-KTP dan tidak memiliki dokumen yang memadai saat hendak dipulangkan.
Anto menyebut proses pengurusan dokumen sempat berjalan sangat lambat. Ia bahkan hampir kehabisan masa tinggal di Malaysia sebelum keluarga meminta bantuan anggota DPR RI asal Batang, Yoyok Riyo Sudibyo.
Setelah bantuan itu masuk, proses yang sebelumnya tak kunjung selesai berubah cepat. Anto mengatakan urusan yang ia tunggu selama dua minggu akhirnya tuntas hanya dalam tiga hari.
Hilang kontak sejak 1997
Gim diketahui berangkat ke Malaysia pada 1995 melalui agen tenaga kerja yang ternyata tidak resmi. Saat itu komunikasi keluarga masih berjalan sampai sekitar 1997, sebelum akhirnya terputus total.
Menurut Anto, sang ibu sempat mengabarkan ingin pulang ke Indonesia, tetapi setelah itu tidak ada lagi kabar. Keluarga pun kehilangan seluruh petunjuk tentang keberadaan Gim selama bertahun-tahun.
Harapan yang tidak pernah padam
Selama puluhan tahun, keluarga tetap berharap Gim masih hidup. Anto bahkan dua kali berangkat bekerja ke Malaysia dengan harapan bisa menemukan jejak ibunya, yakni pada periode 2002 sampai 2004 dan kembali pada 2005 sampai 2008.
Namun pencarian itu gagal karena keluarga tidak memiliki alamat maupun petunjuk lain. Di sisi lain, Gim juga disebut terus berupaya pulang ke Indonesia lewat jalur resmi, tetapi tidak punya dokumen apa pun untuk mengurus kepulangannya.
Pulang, tetapi tidak lengkap
Kini Gim sudah bisa menginjak tanah kelahirannya di Batang setelah puluhan tahun jauh dari rumah. Meski begitu, kepulangan itu membawa duka tersendiri karena suaminya telah meninggal dunia pada 2005 dan tidak sempat bertemu kembali dengannya.
Di tengah kerumunan warga, Anto tak dapat menyembunyikan haru atas keberhasilan membawa pulang ibunya. Ia menyebut perjuangan itu bukan hal mudah karena tersendat birokrasi yang tidak jelas tenggat waktunya.
Anto juga menyoroti persoalan yang lebih besar dari sekadar administrasi. Menurutnya, banyak pekerja migran bermasalah masih kesulitan karena minim empati, padahal di era digital identitas dan asal-usul seseorang seharusnya bisa lebih mudah diverifikasi melalui desa atau jaringan keluarga.
Source: www.merdeka.com